Showing posts with label Traveling. Show all posts
Showing posts with label Traveling. Show all posts

Friday, September 9, 2016

Kopi ARANG Cerita Para Regu Penyelamat Merapi

Net
Suasana baru, secangkir Kopi dan cerita malam, Karena 1 cerita bisa berjuta makna.
Kopi arang atau disebut kopi joss, ah sudah hitam kau tambah lagi arang hitam yang membara. Ini cerita tentang kopi joss, pertama kali menyuruput di bulan oktober 2010, saat erupsi Merapi, kami diajak sesama rekan tim regu penyelamat yang berasal dari kota jogja , sejenak menghilangkan lelah dengan duduk lesehan di utara stasiun tugu. Mungkin kalau lesehannya di selatan stasiun tugu agak lain pastinya bukan kopi Joss tapi kopi pangku.
Awalnya kaget, dan baru tau ternyata ini bukan trend baru, tapi emang sudah lama kopi arang atau di sebut kopi joss ini beredar di kota jogja ini, bahkan kata senior dokter hewan pakde sugeng, sudah tahun 1970an mas sejak saya kuliah sudah ada.
Di luar negeri, Kopi Joss dikenal dengan nama The Charcoal Coffee. Mungkin karena unik penyajiannya yang original itu, dimana arang yang membara di angkat dari tungku dengan menggunakan capit langsung mak jlebb masuk dalam gelas, jadi terlihat seperti atraksi debus dalam meracik kopi, yang pertama saya suka adalah kebulan asap yang beraroma khas, susah diartikan dalam kata-kata yang pasti aroma kopinya kuat.
Saya pikir akan merusak citra rasa kopi, namun ternyata tidak, asam cafeinnya saja yang menurut saya terasa berkurang, logika ilmiah arang adalah karbon aktif yang mampu menyerap polutan atau racun, mungkin reaksi kimiawi yang terjadi dalam secangkir kopi arang ini adalah penawar cafein yang tradisional.
Banyak produk farmasi yang berbahan dasar dalam membuat antiracun yang menggunakan arang, dalam bentuk suspensi tablet kunyah, cairan, pil dan bubuk. Produknya meliputi Diarrest, Donnagel, EZ-Char, Kaopectate, Kaopek dan Actidose-Aqua. So, saya rasa aman, hemmm nikmatnya lain.
Kawan yang berhenti ngopi karena punya maag akut, tersugesti menyeruput dan tak ada reaksi dari si empunya perut, mungkin saja si maag lagi tidak mau kambuh, atau bisa jadi karbon aktif yang membara itu memang bereaksi dalam mengurangi asam kafein.
Cerita kopi joss atau kopi arang ini, menjadi seru dan asik malam itu, karena merapi ternyata belum usai dengan letusan pertamanya. (#Catatan2010)
Malam ini, Rasanya ingin menjadi barista meracik kopi joss dalam atap mega bintang, berteman selimut kabut, bukit barisan. Namun apala daya kopi dan gula tersedia, nesting tertinggal.

Thursday, September 8, 2016

Haruskah Kita berhenti Ngopi ? : Sruput Kopi AWAS Hasil Perambahan Hutan !!!


Perambahan di pondok tepian hutan

Sejumlah jurnal menjadi pembanding antara teori dan sintesa sebagai bahan pendukung dan penyangkal dari apa yang saya tulis ini.... sesaat tarikan kretek dan sruputan kopi menjadi kawan dalam mengeja makna tiap jurnal.

Adahal yang menarik tentang tutupan vegetasi yang ternyata sejak jaman belanda sudah di petakan.

Catatan WRI (word resources Institut) bahwa pada tahun 1950, lembaga yang pada waktu itu disebut Dinas Kehutanan Indonesia menerbitkan peta vegetasi untuk negara ini. Dari peta ini disimpulkan bahwa hampir 84 persen luas daratan Indonesia waktu itu tertutup hutan primer dan sekunder serta perkebunan seperti teh, kopi dan karet, menghasilkan peta ini menggabungkan seluruh tipe perkebunan ke dalam kategori "hutan" sehingga rincian luas masing-masing tidak dapat disebutkan secara pasti.

Namun demikian, jelas bahwa pada tahun 1950 luas perkebunan skala besar dan perkebunan skala kecil tidak begitu mempengaruhi hutan. Catatan-catatan jaman penjajahan Belanda dari tahun 1939 menyebutkan bahwa perkebunan skala besar luasnya mencapai sekitar 2,5 juta ha "yang dieksploitasi" dan sebenarnya hanya 1,2 juta ha yang ditanami.

Sektor ini mengalami stagnasi selama tahun 1940- an dan 1950-an, dan luas lahan yang ditanami baru mencapai luas seperti yang ada pada tahun 1939 setelah ditanam ulang pada tahun 1970-an. Luas perkebunan skala kecil hanya mencapai 4,6 juta ha pada tahun 1969, dan sebagian besar dari luas kawasan ini ditanami pada tahun 1950-an dan 1960-an (Booth, 1988). Hutan jati di Jawa luasnya mencapai 824.000 ha pada tahun 1950 (Peluso, 1992: Lampiran C). Penyebab utama pembukaan hutan yang terjadi sampai tahun 1950 adalah untuk kepentingan pertanian, terutama untuk budidaya padi.

Masuk akal jika disimpulkan bahwa luas hutan tanaman dan perkebunan tidak lebih dari 4 juta ha pada tahun 1950, dan sisanya sekitar 145 juta ha berupa hutan primer dan 14 juta ha lainnya adalah hutan sekunder dan hutan pantai yang dipengaruhi pasang surut.

Pada periode 2000 – 2012, sebuah studi melaporkan bahwa Indonesia telah kehilangan 6,02 juta hektar hutan primernya, dengan rata-rata pertambahan kehilangan 47,6 ribu hektar pertahun. Bahkan pada tahun 2012 diperkirakan Indonesia telah kehilangan 0,84 juta hektar hutan primer.

Berdasarkan hasil citra yang diinterpretasikan oleh para ahli, kehilangan hutan primer di sumatera meningkat karena terjadinya konversi dari kawasan hutan menjadi peruntukan lain, yaitu peruntukan perkebunan dan hutan tanaman industri.

Ketika saya mencoba melakukan analisa citra NVDI (Normalized Difference Vegetation Index) dari citra tahun 1995 dengan di bandingkan citra tahun 2010 dan membandingkan kembali citra satelit tahun 2016, pernyataan di atas benar bahwa kawasan hutan, tidak saja hutan lindung hutan konservasipun beralih fungsi menjadi ladang-ladang kopi, kebun-kebun masyarakat, sebagian kecil yang sedikit heran menjadi kebun teh yang jelas masuk tapal batas kawasan.

Analisa NVDI dari Citra satelit adalah cara cepat dan mudah serta akurat dalam mendeteksi perubahan penggunaan lahan, beberapa tutupan hutan memang ada yang berubah secara alamiah karena longsor, namun beberapa tampak jelas wajah Bopeng alias kotak-kotak kapling yang teridentivikasi tanaman perkebunan kopi.

Membaca copy hasil penyelidikan polres Kepahiang, bahwa ada 9 petani perambah telah di tetapkan sebagai tersangka perambah hutan yang membuka kawasan konservasi menjadi kebun kopi. Dari titik koordinak yang disebut sang Brida penyidik, begitu di cocokan dengan peta analisa NVDI, tak menjadi ragu bahwa kawasan konservasi itu telah beralih fungsi menjadi kebun kopi.

Seseorang toke kopi di kota kepahiang mengatakan bahwa perambahan sudah berlangsung sejak lama, karena si "toke" sendiri mengaku "sudah membeli kopi hasil perembahan hutan sejak 2013 lalu". Pengakuan toke yang juga menjadi tersangka sudah cukup jelas, bahwa bukan soal perambahan hutan TWA, namun ini soal EKONOMI, negara harusnya hadir menjawab masalah ini tegas si Penyidik.

AHH, sayapun berpikir ini soal perut, namun malaikat juga berkata ini soal hajat hidup orang banyak, jika hutan terus di rambah, daya dukung ekosistem tidak mampu menopang, maka bencana akan datang....

Terhenyak, sejenak dalam setumpuk ketik-kan ada keraguan saat menyeruput kopi pagi ini......apakah bubuk-bubuk kopi yang dikemas apik ini termasuk hasil perambahan, ada keraguan dalam bayang kecintaan terhadap pahitnya kopi ini dengan kenyataan yang ada. sepertinya Kemenrindag juga selain menulis label haram juga perlu label bukan hasil dari perambahan hutan.

Sumber :

WRI 
Mongabay

Tuesday, September 6, 2016

Nyanyian Siamang Si Primata Setia Tak Gemar Selingkuh

 Habitat adalah kawasan yang terdiri dari berbagai komponen, merupakan kesatuan fisik  dan  biotik,  dipergunakan  sebagai  tempat  hidup  serta  berkembang biak. Habitat  dengan  vegetasi  yang  memiliki  tajuk  kontinyu  antara satu  pohon  ke  pohon  lainnya  berperan  penting  bagi siamang dalam  melakukan pergerakan brakhiasi dengan cepat untuk berayun dari pohon ke pohon lain karena siamang jarang turun ke lantai huta.

Siamang menghabiskan sebagian besar hidupnya diatas pohon. Kehidupan mereka didominasi dengan bergelantung dari satu Ketika bergerak lambat, mereka memegang satu cabang dengan satu tangan, sedangkan tangan yang satunya belum dilepas dari cabang yang sebelumnya cabang ke cabang lain. Proses yang dilakukan seperti ini disabut brachiating. Ketika tangan berhasil memegang cabang yang ke dua, tangan baru akan melepas cabang yang pertama dan beralih ke cabang ke tiga.


Ketika bergerak cepat, siamang sering melepas pegangan tangan yang ada dicabang pertama, kemudian bergelantung memegang cabang kedua. Proses seperti ini membutuhkan tenaga yang lebih. Ketika melakukan brachiating, posisi jari tangan seperti memegang pada manusia(empat jari bergabung menjadi satu sementara jari yang satunya berada pada posisi yang berlawanan dari empat jari yang lain). Siamang juga dapat berjalan dipohon dan cabang-cabang kecil menggunakan kakinya yang dibantu oleh tangan terulur untuk membantu menjaga keseimbangan. Siamang dapat melompat dari satu cabang ke cabang pohon yang lain. Dalam satu lompatan dapat mencapai 30 kaki atau 9 m. Salah satu kelemahan siamang adalah tidak suka air dan tidak dapat berenang.


Penyebaran Hylobates tergantung  pada  kualitas habitatnya.   Kualitas  habitat  yang  semakin  baik, akan semakin  banyak  jumlah kelompok  yang  ada  di  dalamnya. Jarak  antar  kelompok semakin  berdekatan  dan angka  kepadatannya  juga  semakin  tinggi. Siamang  menempati  hutan  tropis primer  atau  sekunder   mulai   dari   dataran   rendah   hingga   perbukitan   dengan ketinggian  3800  m.   Penyebaran siamang di Sumatera  tersebar luas mulai dari Sumatera bagian utara(Aceh) hingga  kebagian  selatan. Siamang di  Sumatra  terdapat  di rangkaian  Pegunungan  Bukit Barisan yang  terletak  memanjang  di  bagian  barat Sumatra dan lebih menyukai hutan dataran rendah dan perbukitan.


Keberadaan siamang di alam liar semakin terancam, karena berubahnya habitat menjadi kawasan perkebunan. Salah satu habitat siamang di Provinsi Bengkulu adalah Bukit Kaba, kawasan yang telah di tetapkan sebagai Taman Wisata Alam, yang memiliki dasar hukum sebagai kawasan konservasi, kian kini, populasinya mengalamni keterdesakan akibat perambahan hutan di seluruh kawasan sabuk Bukit Kaba, khususnya di wilayah kabupaten Kepahiang hingga Bengkok,.

Kawasan ini telah di rambah hingga mencapai 2 Km mendekati puncak gunung Kaba yang merupakan Gunung api aktif tipe A. tak hanya di bagian sisi selatan di sisi utara, bagian Air Meles yang masuk wailayah Rejang Lebong, kawasan Taman Wisata alam inipun memiliki wajah-wajah bopeng jika di lihat dari peta googlemap.

Selain terdesak oleh habitat, faktor yang mempercepat kepunahan siamang dikarenakan, memiliki nilai jual sebagai “komoditi” perdagangan illegal sebagai binatang eksotik menjadi ancaman tersendiri bagi hidup siamang di alam, terutama anak siamang. Karena anak siamang terlihat sangat lucu dan menggemaskan. Untuk mendapatkan anak siamang, biasanya pemburu akan membunuh induknya terlebih dahulu, karena induk siamang sangat protektif terhadap anaknya.

Keberadaan satwa khas sumatera ini khususnya di TWA bukit Kaba, tak akan lama lagi mengalami kepunahan secara lokal, jika tidak dilakukan tindakan nyata dalam upaya konservasi, seperti penegakkan hukum, pembinaan masyarakt lokal, restorasi kawasan hingga upaya patroli yang harus dilakukan rutin petugas, maupun masyarakat yang telah di latih dan di bina.

Siamang Bukan Tukang Selingkuh

Siamang  merupakan spesies yang  bersifat monogamous. Satu kelompok keluarga terdiri dari  satu  jantan  dewasa,  satu  betina  dewasa  yang sampai memiliki 4 keturunan, Dalam kelompok tersebut terdiri  beberapa  individu  muda. Pada habitat aslinya,  rerata ukuran kelompoknya empat ekor. Siamang dewasa siap bereproduksi pada usia sekitar 5-7 tahun, dengan masa bunting sekitar 8 bulan, dan biasanya anak yang dilahirkan hanya satu ekor. Siamang muda akan hidup bersama orangtuanya setidaknya sekitar 5-7 tahun. Sifat monogami, ini mengartikan bahwa siamang adalah primata yang setiap pada pasangannya alias tidak akan selingkuh alias tidak akan mendua sepanjang hidupnya dengan satu pasangan, membesarkan anak-anaknya hingga remaja dewa dan si anak memiliki kelompok sendiri. Benar-benar  hidup berpasangan yang didalam pasangan tersebut terdapat kesetiaan yang tinggi.

Nyaynian Siamang

Komunikasi merupakan suatu perilaku yang sangat penting bagi makhluk hidup. Organisme dapat bertukar informasi antar satu sama lain secara efektif dengan menggunakan sinyal saat berkomunikasi, salah satunya yaitu menggunakan sinyal berupa suara atau vokalisasi, sama halnya dengan manusia. siamang (Hylobates syndatylus) dari kelompok Gibbon yang merupakan satwa endemik Indonesia, memiliki ciri khas berupa vokalisasi. Sinyal suara pada siamang digunakan sebagai suatu alat komunikasi antar individu dalam satu kelompok atau kelompok yang berbeda.

Setiap pagi, kelompok siamang menimbulkan suara yang sangat keras untuk mengumumkan posisinya dihutan. Suara ini merupakan penanda bahwa wilayah tersebut merupakan daerah kekuasaan  (teritorial), sekaligus sebagai pengaturan ruang antar kelompok, atraksi kawin,  dan  untuk  mempererat  hubungan  sebagai  pasangan  kawin  (Bates,  1970;  Leighton,  1987;Cowlishaw,  1992). Nyanyian  Hylobatidae ini cukup  nyaring melengking  sehingga  dapat  terdengar  sampai  1  km  bahkan terdengar sampai 2 km.

Sinyal suara yang berupa “nyanyian” dikeluarkan setiap pagi. Jantan dewasa siamang akan menjadi perwakilan kelompok jika terjadi konflik batas wilayah atau gangguan yang lainnya dengan melakukan tindakan agresif. Hal tersebut merupakan salah satu cara untuk mengurangi jumlah energi yang dikeluarkan oleh kelompok dalam mempertahankan teritorialnya.

Sinyal komunikasi tersebut digunakan oleh penerima (individu atau kelompok lain) untuk mengklasifikasikan pengirim sebagai satu anggota atau dari kelas lain . Hal tersebut dikarenakan hewan dapat menunjukkan kemampuannya dalam mengenali dan membedakan individu sejenis dan lainnya pada berbagai tingkat organisasi sosial. Sehingga dapat diperkirakan akan ada perbedaan nyanyian pada setiap individu siamang.

Nyanyian siamang terdiri dari tiga fase: bagian pembukaan, dimana mereka memulai latihan melemaskan badan; nyanyian berikutnya duet antara jantan dan betina, dan suara dari betina yang lambat laun menjadi tinggi (great calls). Aktivitas berusara digunakan sebagai pemberitahuan, menyatakan kehadiran mereka pada kelompok tetangga. Ini sebagai petunjuk untuk konfrontasi dalam batas kebersamaan, kadang–kadang untuk menunjukkan sifat menyerang.siamang juga bisa bersuara keras, teriakan dapat lebih keras pada saat ada usikan seperti dari manusia atau Macan tutul.

Mendengarkan suara siamang bersautan di dalam hutan, buat saya seperti mendengarkan suara okestra Rimba, dengan komposer handal, jika hutan tanpa nyanyian satwa liar bisa dikatakan hutan tersebut telah mati,

Berikut lima fakta tentang Siamang

1. Siamang merupakan satwa yang setia. Iya, dalam hidupnya satwa ini hanya akan memiliki satu pasangan hidup saja. Berbeda dengan kawan-kawannya yang lain, satwa ini monogami permanen. Jadi, kalo salah satu pasangannya diburu, apa yang terjadi dengan pasangannya yang lain? Seperti itulah. So sweet ya.

2. Siamang merupakan penebar benih yang baik. selain omnifora, siamang lebih menyukai buah-buahan sebagai makanan intinya. Tentunya, feses yang doi keluarkan akan tersebar sebagai benih seiring dengan pergerakan Siamang. Semakin jauh pergerakan siamang, tentunya semakin luas juga persebaran benih dari tanaman yang sudah doi makan. Intinya, selalu ada regenerasi hutan. Baik bukan bagi Bumi ini?

3. Siamang gesit dan memiliki nyanyian merdu. Ya, pergerakan siamang tergolong gesit terlebih ketika doi lagi bergelantungan di dahan dan ranting pohon. Selain itu, ketika memulai aktivitasnya di pagi hari, siamang selalu mengeluarkan suara-suara seperti nyanyian. Dan bagi para pendaki ataupun peneliti di hutan, nyanyian siamang  ini khas dan unik sehingga dianggap paling merdu dibandingkan dengan kera lainnya.

4. Siamang si Raja Pohon. Maksudnya, hampir selama hidupnya siamang ini selalu diam diatas pohon alias arboreal sejati. Namun, walaupun begitu siamang mampu dan sering berjalan dengan menggunakan kedua kakinya. Ya, doi mampu berjalan tegak tanpa menggunakan tangannya. Keren kan?

5. Siamang memprihatinkan! Seperti yang udah disebutkan diatas, satwa ini tergolong satwa yang terancam punah. Selain itu, menurut CITES satwa ini termasuk Appendix 1 yang artinya tidak bisa diperjualbelikan sama sekali.


Tuesday, August 23, 2016

Konservasi Atas Nama Pelestarian Adat Penyu Sajian Ritual Adat Suku Enggano






RMOL. Ya’uwaika!!!. Demikianlah sapaan khas masyarakat Enggano yang tinggal di Pulau Enggano, yang artinya "selamat lah kita semua". Kata ini harus diucapkan penduduk Enggano saat bertemu satu sama lain.

Ya’uwaika!!!,  teriak Pa'buki, sebutan ketua lembaga adat di Pulau Enggano, dan warga menjawab dengan lantang Ya’uwaika !!!, begitulah awal sambutan Ketua Lembaga adat, Harun Kaarubi di malam seni budaya dalam rangka HUT NKRI ke 71 di Pulau Enggano yang dihadiri Gubernur Bengkulu Ridwan Mukti dan Bupati Bengkulu Utara beserta jajarannya, Selasa malam (16/8/2016) lalu.

Pulau Enggano merupakan sebuah kecamatan di Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu yang letaknya di Samudera Hindia bagian barat dari pulau Sumatera sekitar 156 km. Dari ibu Kota Provinsi Bengkulu menuju Pulau Enggano dengan menggunakan transportasi laut baik Ferry maupun kapal Perintis bisa ditempuh kurang lebih selama 12 jam.

Hasil penelusuran RMOL Bengkulu ditulis oleh Pieters J Ter Keurs dari Museum Nasional Ethnologi Belanda. Bahwa Suku di Pulau Enggano pertama kali dilihat oleh awak kapal Portugis pada awal tahun 1500-an, saat itu kapal Portugis mendarat di Pulau Enggano. Setelah itu pelaut terkenal Charles de Houtman dari Kerajaan Belanda, dalam melakukan ekspedisi perintis ke Nusantara, menemukan Pulau Enggano pada 5 Juni 1596.

Keberadaan Pulau Enggano yang langsung berhadapan dengan Samudra Hindia, menjadikan pulau ini jauh dari sentuhan pembangunan sebelum terjadinya reformasi 1998. Penduduk asli Pulau Enggano adalah Suku Enggano, yang terbagi menjadi lima sub suku dan semuanya berkomunikasi dengan bahasa Enggano. Ke lima suku itu yaitu Kaitora, Kauno, Kaharuba, Kaahua, dan Kaarubi, sedangkan untuk para pendatang di berikan gelar suku yaitu kamay. Masing-masing suku dipimpin oleh ketua suku dan kemudian membentuk lembaga adat dengan nama Kaha Yamu’y’. Untuk berjalannya lembaga ini, dipilihlah seorang ketua yang disebut dengan Pa’buki.

Saat ditemui oleh RMOL Bengkulu, Pa'buki sedang mempersiapkan prosesi tari semut yang merupakan ritual adat untuk menyambut tamu yang hadir pada malam seni budaya masyarakat Enggano dalam menyambut HUT Kemerdekaan RI ke 71 yang dipusatkan di halaman kantor Camat Enggano.

Tampak para kepala suku lainnya duduk di barisan tengah menggunakan pakaian batik dengan ikat kepala berwana putih, dan sebagian besar para pemuda dan pemudi menggunakan ikat kepala yang terbuat dari daun lontar, beberapa wanita dan pria menggunakan pakaian dari daun-daun yang menjadikan ciri khas masyarakat Adat Enggano. Sebagai Pulau terluar, Enggano memiliki adat istiadat yang kuat dalam kehidupan sehari-hari, bahkan adat dan kebiasaan masyarakat Enggano begitu kuat dipegang hingga kini.

Salah satunya adalah pemanfaatan Penyu sebagai kebutuhan ritual adat, seperti menyambut tamu besar, membuka pantang kepala suku yang meninggal, mengangkat kepala suku baru, pemindahan kampung, dan peresmian kampung yang baru dan pernikahan. Penyu dijadikan sesaji ritual adat oleh masyarakat Enggano sampai saat ini guna untuk menjaga titipan para leluhur (tradisi).

"Saat ada ritual adat, masyarakat Enggano harus mengadakan sesajian makanan, seperti yang tersajikan di meja tamu ini," terang Pa'buki.

Dalam sorotan kamera awak media terlihat aneka ragam makanan tradisional yang terbungkus daun pisang, seperti ubi talas, keladi, ikan bakar, kelapa muda dan Penyu. Terlihat di sudut-sudut meja tampak 2 ekor Penyu yang diasap sebagai hidangan jamuan untuk tamu dan warga Enggano.

Dilangsir dari penelitian Mahasiswa Universitas Bengkulu, mengenai studi pemanfaatan Penyu di Pulau Enggano,  Andri Rahmat menyebutkan, bahwa dalam ritual adat di Pulau Enggano Penyu dijadikan sebagai bahan konsumsi bagi masyarakat setempat pada saat mengadakan pesta pernikahan. Selanjutnya Andri menyebutkan bahwa jumlah Penyu yang ditangkap tidak ada batasnya tergantung berapa yang mereka dapat dari perburuan di laut.

Pa'buki Harun Karubi yang diwawancarai Jurnalis RMOL Bengkulu menyatakan, secara adat warga Enggano telah melakukan upaya konservasi dalam pemanfaatan Penyu untuk ritual adat dengan membatasi jumlah dan ukuran penyu yang ditangkap. Untuk jumlah penyu yang diperbolehkan maksimal 5 ekor dengan ukuran panjang karavas 60 cm dan apabila menangkap diluar kebutuhan adat serta lebih dari ketentuan yang ditetapkan maka akan dikenakan sanksi uang sebesar Rp 25.000.000.00 dan wajib untuk melepaskannya kembali kelaut.

Berdasarkan hasil peneltian Andri Rahmat, bahwa perlindungan Penyu yang ada di Pulau Enggano belum terealisasi dengan baik, dan disebutkan dalam hasil penelitiannya pada acara pernikahan di desa Ka'ana (8/5/2016), bahwa penyu yang ditangkap untuk acara pernikahan tidak sesuai dengan acuan yang tercantum di Peraturan Adat, dimana Penyu yang ditangkap saat itu mencapai 24 ekor. Bagi sebagian warga mengatakan semakin banyak Penyu yang didapat maka semakin baik karena mengurangi biaya pengeluaran konsumsi daging.

Andri menjelaskan, Penyu sering ditangkap pada saat nelayan melakukan aktivitas perikanan dilautan guna untuk dijadikan konsumsi dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Konservasi dan Hukum Adat

"Dulu kami tidak tahu bahwa ada undang-undangnya yang mengaturnya, dan ini sudah tradisi nenek moyang yang hanya dilakukan di Enggano. Kami mempelajari adat tersebut dan mungkin inilah salah satu alasan pemerintah memperbolehkan kami. Setelah ada undang-undang tersebut kami patuhi dan tidak harus ada katungnya (Penyu), tapi alangkah lebih baik memakai katung, jelas Pa'buki kepada RMOL Bengkulu belum lama ini.

Kepala Balai KSDA Bengkulu saat ditemui oleh RMOL Bengkulu di lokasi kegiatan malam seni budaya di halaman Kantor Camat PUlau Enggano, enggan memberikan keterangan. "Nanti kita diskusi di Kantor Balai saja," ujar Kepala Balai Konservasi Sumberdaya Alam Bengkulu Abu Bakar.

Pada kesempatan lain Kepala KSDA memberikan keterangan melalui Kepala seksi wilayah satu yang melingkup kawasan Konservasi di Pulau Enggano, Jaja Mulyana mengatakan bahwa, ini adalah tradisi dan budaya, namun dalam pemanfaatan sumber daya Penyu banyak terjadi penyimpangan yang dilakukan dengan tidak memperhatikan asas pelestarian lingkungan hidup dan keberlanjutan sumber daya tersebut. Hingga saat ini pemanfaatan Penyu masih belum mengikuti cara-cara yang baik dan benar, sehingga terjadi ketidakseimbangan antara tingkat pemanfaatan dengan tingkat pertambahan populasi. Eksploitasi yang berlebihan tanpa menghiraukan pelestariannya, menyebabkan status populasi di alam yang sudah langka itu semakin terancam punah.

Kepala Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Kepolisian Kehutanan KSDA Bengkulu Sigit Pribadi menjelaskan, pemanfaatan penyu dilarang secara Undang-Undang Nomor 5 tahun 1990, tentang konservasi sumberda alam dan ekosistemnya, yang mana disebutkan dalam Pasal 21, bahwa barang siapa menangkap,
melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa liar yang dilindungi dalam keadaan hidup dan mati dapat dikenakan sanksi pidana berupa hukuman penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

Namun pemanfaatan untuk adat tidak menutup kemungkinan dapat dilakukan, karena di atur dalam dalam Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 1994, tentang Perburuan Satwa Buru, dalam pasal 14 diatur bahwa pemburu tradisional dapat dilakukan oleh masyarakat yang berdomisili dalam wilayah tempat berburu, hasil buruan digunakan untuk keperluan adat.

Dalam Undang-Undang Dasar 1945, Pasal 18B ayat 2, Negara menegaskaan pengakuan dan menghormati kesatuan kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diatur dalam undang-undang.

"Untuk itu Kami perlu kerja keras untuk melakukan upaya sosialisasi aturan ini ke pada masyarakat Enggano, namun alangkah lebih baiknya jika aturan adat itu di Perda-kan sehingga kekuatan hukumnya jelas, dan ada batasannya dalam memanfaatkan Penyu, dan pelaku yang melanggar adat dapat dikenakan sanksi hukum adat maupun hukum pidana sesuai undang-undang yang berlaku," tegas Sigit Primbadi saat di hubungi via telpon kepada RMOL Bengkulu.

Jaja Mulyana menambahkan, bahwa pada malam acara adat tersebut KSDA telah rembuk dengan tokoh adat, Camat Enggano, kedepan ritual adat seperti ini masih boleh dilakukan sebagai syarat namun untuk kebutuhan daging ini jelas tidak boleh. Oleh karena itu, KSDA dan tokoh adat akan melakukan sosialisasi atas aturan hukum dan kesepakatan mengenai pemanfaatan Penyu dalam ritual adat yang nantinya dapat di tuangkan dalam produk hukum seperti Perda.

"Untuk itu kami perlu dukungan pihak pemerintah daerah, LSM, tokoh-tokoh adat melakukan kajian bersama-sama mengenai pemanfaatan Penyu atas nama adat di Enggano ini. Diharapkan nantinya tidak mengalami kepunahan di alam dan pelestarian adat secara turun temurun juga dapat dilakukan kedepanya," terang Jaja Mulyana.

Sementara itu, pakar hukum adat dari Universitas Bengkulu Andri Harijanto mengatakan, praktek eksploitasi sumber daya alam yang telah dan masih terjadi di Pulau Enggano harus segera dihentikan. Bila tidak, penghancuran yang terjadi. Untuk menyelamatkan Pulau Enggano dari kerusakan lingkungan, pengelolaan sumber daya alam berdasarkan hukum adat adalah jawabannya.

Menurut Andri, pengelolaan sumberdaya alam yang mempedomani hukum adat akan berdampak positif untuk menekan laju kerusakan lingkungan di Enggano, yang merupakan ekosistem pulau yang tergolong rentan. Jika masyarakat adat memperoleh pengakuan atas hak dan wilayah adatnya, maka adanya masyarakat adat, adanya wilayah adat, adanya harta kekayaan bersama milik masyarakat adat, adanya hukum adat, dan adanya struktur atau fungisonaris hukum adat, yang semuanya sudah dimiliki oleh masyarakat adat Enggano. Sehingga, tidak ada alasan bagi pemerintah daerah enggan mendukung perjuangan masyarakat adat Pulau Enggano.

Dirjen PRL Kementerian Kelautan Perikanan Brahmantya Satyamurti Poerwadi menjelaskan kepadaRMOL Bengkulu, bahwa upaya konservasi Penyu harus terus dilakukan agar tidak terjadi kepunahan. Pemanfaatan adat juga harus diatur agar pelestarian adat di Pulau Enggano tidak punah.

"Saat disajikan, saya tidak memakannya namun selama pemanfaatan diatur oleh adat tidak masalah, hanya saja memang perlu di pertegas aturan adat itu menjadi produk hukum yang baku, sehingga ketika di manfaatkan tidak sesuai keperluan adat dapat di kenakan sanksi adat yang hukumannya seperti hukum pidana yang berlaku dalam undang-undang yang mengatur perlindungan Penyu," terang Brahmantya Satyamurti Poerwadi di Home Stay yang berada dekat pelabuhan Malakoni, Pulau Enggano.

Ritual Adat Sesaji Penyu

Dalam ritual adat dilakukan tari semut sebagai tarian untuk menyambut tamu, dimana tarian ini dilakukan secara massal oleh pemuda dan pemudi dengan jumlah sekitar 70 orang peserta tari. Dalam tarian ini dipimpin kepala suku sebagai ketua rombongan, yang dicirikan memegang tongkat dan berada dalam barisan paling depan, para penari mengeliling panggung sambil menyayikan sair-sair yang menyerupai mantra-mantra.

Setelah Pabuki memberikan korek api kepada Gubernur Bengkulu Ridwan Mukti dan Bupati Bengkulu Utara Mian, maka iringan tari semut berhenti. Selanjutnya Pabuki membuka ritual gelar sesaji membagikan makanan yang tersaji di meja undangan. Pada kesempatan  itu,Pabuki memulai membelah Penyu yang diasap dan membagi-bagi kepada para tamu undangan.

Disisi lain, Diungkapkan Ketua Lembaga Adat Enggano, Harun Kaarubi, bahwa pihaknya sudah mengajukan draft hukum adat Enggano kepada DPRD tingkat I maupun tingkat II agar segera diperdakan sejak tahun 2015, namun belum mendapat tanggapan.

"Kalau hukum adat itu tidak diakui, bagaimana wilayah hutan kami bisa dijaga. Hukum adat kami ini kuat, dan kami bisa namun hanya berlaku bagi penduduk lokal saja. Karena itu, kita minta kepada semua pihak agar pengajuan hukum adat tersebut bisa dikawal," ungkap Ketua Lembaga adat Pulau Enggano Harun Kaarubi.

"Kita mendukung keinginan pemerintah untuk melakukan percepatan pembangunan di Pulau Enggano, namun kami mengharapkan agar hukum adat yang berlaku di Pulau Enggano yang sudah diajukan ke DPRD Kabupaten Bengkulu Utara (BU), bisa diperdakan segera mungkin sebelum Visit Bengkulu 2020," tegasnya. [Rizky. T]

Wanita Sebagai Juru Damai Perang Antar Suku di Pulau Enggano.



Oleh: Redaksi




RMOL. Tari Perang adalah pagelaran kebudayaan yang mengisahkan pertempuran antar suku dalam memperebutkan wilayah kekuasaan, dimana peran para wanita sangat penting dalam perdamaian pertikaian antar suku.

Sebuah pertunjukan kebudayaan tradisional seusai upacara HUT RI di Desa Apoho, Pulau Enggano, Bengkulu Utara, Bengkulu, Rabu (17/8/2016). Para ibu-ibu dan wanita membentuk barisan melingkar mengepung para pria yang sedang bertempur, hal inilah yang menyebabkan dan berakhir dengan sebuah perdamaian. Tarian perang ini diperankan oleh 100 pemuda-pemudi warga suku asli Enggano. [Rizky. T]

Tari Perang Enggano

Oleh: Redaksi




RMOL. Tari Perang Masyarakat Suku Enggano mengisahkan pertempuran antar suku di Enggano yaitu suku Kauno, Kaitora, Kaarubi, Kaharuba, Kaohoa dan suku pendatang Ka'may dalam memperebutkan wilayah kekuasaan, yang berakhir pada perdamaian. Sebuah pertunjukan kebudayaan tradisional seusai upacara HUT RI ke 71 di Desa Apoho, Pulau Enggano, Bengkulu Utara, Provinis Bengkulu, Rabu (17/8/2016). Tarian perang ini diperankan 100 pemuda-pemudi serta para tokoh adat warga suku asli Enggano. [Rizky.T]

Monday, August 22, 2016

Panglima Perang Penjaga Hutan Suku Enggano

Hukum Ada Enggano, Mengatur Pemanfaatan  Sumberdaya Alam Secara Arif dan Bijaksana

Friday, August 19, 2016

Shalat Magrib di KRI Imam Bonjol-383



Oleh : Redaksi




RMOL. Meski harus terus berada di laut menjaga perairan Indonesia, para personel kapal KRI Imam Bonjol-383 tidak lupa beribadah. Semua yang beragama Islam khusyuk melaksanakan salat Magrib berjamaah, selepas melanjutkan pelayaran meninggalkan Pulau Enggano, pada Rabu sore (17/8/16).

Beberapa penumpang baik sipil maupun militer ikut sholat berjamaah bersama, tampak dalam sorotan awak media, Bupati Bengkulu utara Mian, Danrem 041 Gamas, Kolonel (inf) Andi Muhammad, komadan Lanal Bengkulu Letkol laut (P) Gadafi, Komandan KRI Imam Bonjol-383 Mayor Laut (P) Ali Setiandy beserta para prajurit TNI, Polri, dan wartawan ikut menunaikan salat. [***]

Thursday, August 18, 2016

Jalan Buruk, BD 1 Terperosok di Pulau Enggano


  

RMOL. Buruknya akses jalan di Pulau Enggano, yang masih licin dan berlumpur, membuat transportasi di pulau ini menjadi terganggu. Hal itu juga dialami oleh Gubernur Provinsi Bengkulu, Ridwan mukti dan rombongan Bupati Bengkulu utara, Mian saat melaksanakan perayaan HUT RI ke-71 di pulau yang berada di pantai barat Samudera Hindia. Dalam perjalanan arak-arakan kendaraan mereka sesekali tampak terperosok kedalam lubang

Gubernur Bengkulu berjanji akan memprioritaskan pembangunan di Pulau Enggano. Sebelum 2020 Visit Bengkulu, seluruh jalan di Pulau Enggano sudah aspal, tak ada jalan yang berlubang lagi, hal ini di sampaikan kepada masyarakat Enggano dalam sambutan acara malam seni budaya, selasa malam (16/8/16) di halaman kantor Camat Enggano.

Sementara itu, Bupati Bengkulu Utara, Mian, kepada RMOLBengkulu mengatakan, pemerintah Kabupaten Bengkulu Utara, sangat membutuhkan dukungan pemerintah pusat untuk dapat menjadikan kawasan Pulau Enggano sebagai ujung tombak perekonomian di perbatasan NKRI.

"Pemda Bengkulu Utara tidak akan menyerah untuk kepentingan warga Enggano. Untuk pembangunan infrastruktur kami telah berkoordinasi dengan Kementerian PUPR, dimana telah diamanatkan dalam Keputusan Menteri PU No. 567/KPTS/M/2010 dan Pelpres no 45 tahun 2016 tentang Renana Kerja Pemerintah (RKP) tahun 2017, ruas jalan Enggano (Banjarsari-Malkoni-Kahyapu) merupakan jalan strategis nasional, artinya infasrtuktur jalan di Pulau Enggano harus aspal hotmix. Nantinya ini meningkatkan konektivitas sehingga memacu perekonomian masyarakat terus berkembang," terang Mian.

Senada, Plt Kadis PU Provinsi Bengkulu, Buyung Azhari mengatakan, tingginya biaya pembangunan dan perbaikan jalan di Enggano masih menjadi kendala utama, biaya Pembangunan jalan di Enggano mencapai empat kali lipat dibanding pembangunan di wilayah lain.

"Hal ini lantaran material dipasok dari Pulau Jawa dan harus diangkut menggunakan kapal. Tingginya biaya pembangunan jalan di Pulau enggano ini yang akan kita  carikan solusinya," tegas Buyung saat mendampingi Guberbur pada peringatan HUT kemerdekaan RI di Pulau Enggano.

Meskipun memiliki sumber daya alam yang melimpah, pada sektor pertanian Enggano merupakan salah satu pemasok utama melinjo dan pisang untuk Provinsi Bengkulu, begitu pun pada sektor perikanan, buruknya prasarana transportasi membuat perekonomian di wilayah tersebut berjalan lamban. [Rizky/***]

Sunday, August 14, 2016

KRI Imam Bonjol Siap Menerjang Badai Menuju Pulau Enggano


  


RMOL. Minggu pagi (14/8/2016) sejumlah pasukan TNI AL yang dipimpin Letkol (P) laut Gadafi bersiaga di dermaga pelabuhan Pulau Baai untuk menyambut kedatangan KRI Imam Bonjol dengan nomor lambung 383.

Kedatangan KRI Imam bonjol yang merupakan kapal perang anti kapal selam ini membawa kru pasukan dengan 60 personil dan di perintah Armabar untuk membantu kegiatan HUT RI ke 71 di Pulau Enggano.

Komandan KRI Imam Bonjol, Mayor Laut (P) Ali Setiandy menjelaskan pada awak media, bahwa perjalanan dari Armabar di Jakarta ke pangkalan TNI AL Bengkulu ini melewati perairan Barat Sumatera, dimana cukup terkenal oleh gelombang tingginya.

Komandan KRI Imam Bonjol menjelaskan, bahwa prakiraan cuaca yang di keluarkan BMKG cukup signifikan, dimana malam tadi gelombang mencapai 2-3,5 meter, dan esok hari berdasarkan prakiraan BMKG bisa mencapai 2,5-4 meter. Karena ini Perintah Panglima dan KRI Imam Bonjol adalah kapal perang yang tangguh tak ada masalah dengan badai gelombang tinggi.

"Namun, kami berharap cuaca membaik, karena ini kapal perang apabila terombang ambing gelombang tentunya para penumpang yang tidak terbiasa dan tidak nyaman dalam perjalanan," ujar Mayor Laut (P) Ali Setiandy, yang setiap harinya memimpin KRI Imam Bonjol menjaga perairan Selat Malaka.[***]

HUT RI Ke-71 di Pulau Enggano Bersama KRI Imam Bonjol



Minggu, 14 Agustus 2016 , 15:58:00 WIB



RMOL. KRI Imam Bonjol yang dipimpin Komandan KRI Imam Bonjol, Mayor Laut (P) Ali Setiandy, Minggu pagi (14/8/2016) tiba di pelabuhan Pulau Baai Provinsi Bengkulu, kedatangan kapal perang anti kapal selam yang membawa kru pasukan dengan 60 personil atas perintah Armabar akan ikut serta dalam kegiatan HUT RI ke 71 di Pulau Enggano.[***]

Kopi Kapal Perang Kopinya Perwira Rasa Jurnalis


Kopi Kapal Perang sajian #KopiPerwira, yang Merasakan Para Jurnalis, Selamat bertugas #KRI #ImamBonjol383 di #BumiRafflesia

Sunday, January 24, 2016

Filosofi Pendaki | Syukur Dan Rendah Diri Sebagai Pendaki ‪#‎Filosofi‬ ‪#‎Pendaki‬


Pendaki sejati akan merasa kecil dan tak berdaya ketika sampai diatas gunung, hanya takjub dan syukur kepada-Nya adalah pilihan satu-satunya.
Kondisi alam yang megah inilah membuat para pendaki belajar merendah
Tanpa disadari manusia seringkali jumawa. Merasa bahwa manusia mahluk ciptaan yang paling tinggi derajatnya dibandingkan mahluk yang lainnya. Bahkan seringkali meniadakan keberadaan mahluk lainnya seperti buang sampah sembarangan.
Nah, gunung merupakan secuil surga kecil yang luar biasa keindahannya, sekaligus merupakan tempat belajar bagi para pendaki untuk merendahkan hati karena dirinya tidak lebih butiran debu dihadapan alam semesta ciptaan-NYA.
Naik gunung akan semakin memupuk rasa syukurmu kepada sang pencipta. Sepanjang perjalanan kamu akan menemui hal-hal yang diluar batas kemampuan manusia, pohon, lautan bunga, sabana dan julangan batu besar membuat diri kita tak ada apa-apanya, makanya kadang kita ‘malu’ jika sombong dengan apa yang telah didapatkan.

Wednesday, January 20, 2016

Mendaki Gunung saat Hujan, Baca Tips Ini


Mendaki Gunung saat Hujan, Baca Tips Ini
Mendaki gunung saat hujan, baca tips ini (Foto: Glacier-bay)
Demon Fajri
Jurnalis
Pakaian.
Saat mendaki penaki mesti meyiapkan pakaian ganti serta jaketwaterproof, jaket anti-dingin, hingga pakaian tidur. Tidak hanya itu, pastikan juga pakaian yang dibawa juga dry-fit atay mudah kering.
Sebab, selain bakal irit tempat buat barang bawaan, pakaian berbahan dry-fit bakal 10 kali lebih cepat kering dari pakaian biasa dan hindari pakaian atau celana berbahan jeans.
Packing.
Persiapkan perbekalan sematang mungkin, ransel pendaki mungkin menggunakan bahan yang kedap air. Tapi, air hujan dapat merembes melalui celah ritsleting atau jahitan.
Lapisi ransel anda dengan rain cover, dan lapisan dalam juga harus dilapisi dengan kantong kedap air atau trash bag untuk menghindari air merembes masuk dan membasahi isi tas. Langkah pertama pastikan sebelum dimasukkan ke dalam keril, semua barang-barang sudah dimasukan kedalam plastik. Pisahkan antara baju, alat mandi, logistik, alat masak, obat-obatan dalam plastik yang berbeda.
Langkah kedua kalau memungkinkan, bawa boks makan plastik buat tempat semua elektronik, yang akan dibawa seperti HP, kamera, powerbank, headlamp. Kecuali berlabel waterproof,semua elektronik akan meninggal jika kena air. Pastikan alat elektronik dalam keadaan mati.
Terakhir sebelum masukan barang yang sudah diplastikan tadi ke dalam tas, masukin trashbag terlebih dulu ke keril. Jadi, perlindungan dari air akan lebih aman.
Ikuti aturan
Travelers harus mengikuti aturan manajemen pendakian di pos-pos jaga, patuhi aturan dan larangan dari petugas, karena cuaca sering kali tidak diduga. Apa bila dilarang maka jangan memaksa mendaki.
Simpan kontak petugas dan berikan no HP kepada petugas, jika terjadi darurat pendaki atau petugas bisa berkomunikasi dengan cepat.
Jaga fisik dan nutrisi.
Jangan lupa makan sebelum melakukan pendakian. Ngemil selama pendakian dan yang paling penting adalah minum air putih diperbanyak, serta tambah asupan vitamin, terutama vitamin C, biar daya tahan tubuh kamu meningkat.
Dengan daya tahan tubuh yang baik, pendaki bisa menjamahi gunung dengan semangat meski cuacanya kurang ramah.
Pelajari jalur yang akan dilalui dan hindari jalur yang berisiko
Mempelajari jalur yang hendak dilalui saat melakukan pendakian sangatlah penting. Apalagi, hujan yang turun bisa meningkatkan risiko yang dihadapi.
Hindari jalur-jalur yang berisiko tinggi dan membahayakan. Seperti rawan longsor atau sangat licin. Lebih baik pilih jalur yang mudah dan tidak perlu memaksakan diri. Memilih gunung yang memiliki banyak shelter juga bisa menjadi pertimbangan, pendaki bisa dengan mudah menemukan tempat berteduh. 
Pantau cuaca
Sebelum pendaki memutuskan untuk mendaki, sebaiknya memantau cuaca di daerah gunung yang akan didaki lewat situs BMKG atau aplikasi cuaca seperti AccuWeather yang bisa dipasang di HP. Walau cuaca di gunung sulit di prediksi namun setidaknya ada gambaran.
Jangan gunakan sandal
Di musim hujan, pendaki akan menghadapi jalur yang licin, becek, dan berlumpur. Sandal bisa dengan mudah terperangkap dalam belitan lumpur yang mengakibatkan rentan putus. Maka, gunakan sepatu boots yang kedap air sehingga pendaki bisa bermanuver dengan lebih baik.
Sebagai tambahan, pendaki juga bisa menyampirkan gaiter dikaki. Fungsinya, untuk menghindari gigitan lintah atau pacet yang biasanya keluar kandang di musim hujan.
Strategi
Mendaki di musim hujan itu perlu strategi. Karena banyak mengadung resiko. Kalau rombongan banyak, orang-orang yang kuat, diposisikan di depan, agar saat sampai lokasi bisa bangun tenda dulu. Usahakan jangan sendiri, minimal berdua. Selain bawa tenda, pendaki juga bawa alat masak.
Kalau rombongan sedikit, jangan terpisah terlalu jauh, takutnya ada teman yang tidak tahan dingin terus kehujanan akan berdampak hypotermia.
Jika jalur melewati sungai, perhatikan warna air
Bila air berwarna coklat dan keruh artinya terjadi banjir di hulu, disarankan untuk tidak menyerang sungai dan cari posisi yang tinggi dari bibir sungai, istirahat sambil menunggu arus sungai reda.
Packing raincoat di bagian atas ransel
Jika hujan dapat diambil dengan mudah, dan jangan remehkan peran poncho untuk melindungi tubuhmu dari air hujan yang menderas.
Pilih lokasi camp di tempat terbuka
Masih ada vegetasi (pohon), lihat kondisi pohon, hindari posisi tenda dekat pohon yang tinggi dan lapuk, karena saat angin bisa rubuh, dan bisa tersambar petir.
Matikan alat komunikasi atau elektronik saat kilat petir terlihat, karena dapat menghatarkan elektroda dari alat elektronik pendaki. Sehinga daya rambat petir bisa menyambar.
''Setidaknya dengan persiapan yang matang, maka kemungkinan terburuk akan terhindari saat mendaki gunung di musim hujan,'' pungkas Jack. (jjs). Dimuat di Okezone



Dimana anda Ngopi ? Pastikan secangkir kopimu bukan dari hutan yang terambah



Dimana anda Ngopi ? Pastikan secangkir kopimu bukan dari hutan yang terambah

 #kopihitam #kopiindonesia #LadangPerambah #HutanLindung #Rajemendare #ExploreBengkulu #MountPatah

Kantong Semar Penanda Alam








































Kantong semar spesies Nepenthes pectinata, Foto ini di ambil di gunung Patah, pada ketinggian 2320 mdpl. Jika pada suatu kawasan atau areal di tumbuhi oleh #Nepenthes #gymnamphora, berarti kawasan tersebut tingkat curah hujannya cukup tinggi, kelembaban diatas 75 %, tanahnya pun miskin unsur hara. Tidak di gunung patah saja di temukan, di beberapa kereng gunung kaba 1973 mdpl dan Gunung Bukit Daun 2450 mdpl juga di temukan spesies ini.

#Flora #dilindungi #MountPatah #ExploreBengkulu#Wildlife #id_pendaki #id_mountaineers

7

Monday, January 11, 2016

Pengalaman Seru Bertemu Mahluk Halus Di Dalam Hutan.



M : Broo bangun bro suara apaan tuh,... 

P: aiidah ganggu aja loe, 

M : Denger tu, denger suara apaan, merinding gw...neh,

P: ya elah itu suara gamelan orang nyanyi sindenan, biasa aja kali, dah gw tidur lagi....

M: oiii bangun, secara itu suara kedengaran jelas gitu cuy... sereeemm oii.

P : krasak krusuk... bongkar reselting sleping bag, haduh loe nakutin aja gw juga kepikiran neh, tu suara makin santer aje... secara dusun di bawah kagak ada orang jawanya, tu kampung di bawah orang pasmah sama serawai semua,

M : iyee juga cuy, haduhh mana ni bekabut lagi cuy gw pindah tengah tidur cuy,

P : kagak ah enak aje... bangunin tuh bang jack.... nyenyak amat tidur.

M: bang.. bang, oii bang jack bangun.... denger tu suara gak...

Bangjack: hmmm apaan euui masih jam 2 dah oada bangun, ntar jam 5 baru naik, ganggu aja nih,...

P : oii jack bangun tu suara makin santer, suara gamelan orang nyinden,

Bangjack : masa sih... huaaaa(Nguap Mode On) haduhhh mana korek jadi mau ngudut neh, suara apaan lagi loe pada ketakutan gitu.

M : nih korek bang, itu suara gamelan sama sinden...tughh dengerkan bang.

Bang jack : krekkk membakar rokok kretek, menarik nafas .... hmmm mantab, cuyy kompor mana, buat kopi cuy, tu oisang hutan di goreng aja, ehh iya tu suara musik kenceng banget.... hiii seremmm

P : aduh pake acara masak masak segala lu jack,

Bang jack : trus mau apa, mau nungging, narik sleeping bag, mau kabur turun kebawah, jauh lagi jalannya, yaa anggap aja tu musik gamelan penghibur, tuh dengerkan lagunya yo ing tawang enten lintah.. cah ayu... tuh sindennya pasti waljinah.

M: aissdah abang nih,
P: serius tuh suara makin deket aja.... eh kenapa nih bivak kebuka .....cuy makin kenceng suaranya cuy....gw deket lu dah, kalau ada yang nonggol gw siram pake nih minyak goreng panas

Bangjack : iya cuy.... angkat dong pisang gorengnya gosong tuh,....

M : BANG ... ADUH loe mentang2 senior jangan gitu dong.... gw juga takut nehh. Mana suara gamelan tuh makin nyaring lagi

Bangjack : iye broo suaranya kenceng nih HP gw loadspeker MP3nya, denger neh waljinah nyanyi....

M dan P, kampret loe yeeee ngerjain orang aje..... makan tuh pisang batu goreng, mana alot lagi. Dasar jawir.

Bangjack: kalau tuh lagu batak baru gw mikir cuy, kite agak ada bataknya yang ngikut, si ucok sinaga masih di perantauan.

mendaki gunung tinggal kembali pada ingsun (Niatnya), para leluhur dan roh halus akan murka jika kalian membuang sampah atau berak sembarangan, toh jika niat sudah baik masih ketemu itu berarti bonus, ajak ngopi2 sapa tau mau angetin badan juga,
Lentera Merah My web Lenteramerah https://pojoklenteramerah.blogspot.co.id/