Showing posts with label Kopi. Show all posts
Showing posts with label Kopi. Show all posts

Friday, September 9, 2016

Kopi ARANG Cerita Para Regu Penyelamat Merapi

Net
Suasana baru, secangkir Kopi dan cerita malam, Karena 1 cerita bisa berjuta makna.
Kopi arang atau disebut kopi joss, ah sudah hitam kau tambah lagi arang hitam yang membara. Ini cerita tentang kopi joss, pertama kali menyuruput di bulan oktober 2010, saat erupsi Merapi, kami diajak sesama rekan tim regu penyelamat yang berasal dari kota jogja , sejenak menghilangkan lelah dengan duduk lesehan di utara stasiun tugu. Mungkin kalau lesehannya di selatan stasiun tugu agak lain pastinya bukan kopi Joss tapi kopi pangku.
Awalnya kaget, dan baru tau ternyata ini bukan trend baru, tapi emang sudah lama kopi arang atau di sebut kopi joss ini beredar di kota jogja ini, bahkan kata senior dokter hewan pakde sugeng, sudah tahun 1970an mas sejak saya kuliah sudah ada.
Di luar negeri, Kopi Joss dikenal dengan nama The Charcoal Coffee. Mungkin karena unik penyajiannya yang original itu, dimana arang yang membara di angkat dari tungku dengan menggunakan capit langsung mak jlebb masuk dalam gelas, jadi terlihat seperti atraksi debus dalam meracik kopi, yang pertama saya suka adalah kebulan asap yang beraroma khas, susah diartikan dalam kata-kata yang pasti aroma kopinya kuat.
Saya pikir akan merusak citra rasa kopi, namun ternyata tidak, asam cafeinnya saja yang menurut saya terasa berkurang, logika ilmiah arang adalah karbon aktif yang mampu menyerap polutan atau racun, mungkin reaksi kimiawi yang terjadi dalam secangkir kopi arang ini adalah penawar cafein yang tradisional.
Banyak produk farmasi yang berbahan dasar dalam membuat antiracun yang menggunakan arang, dalam bentuk suspensi tablet kunyah, cairan, pil dan bubuk. Produknya meliputi Diarrest, Donnagel, EZ-Char, Kaopectate, Kaopek dan Actidose-Aqua. So, saya rasa aman, hemmm nikmatnya lain.
Kawan yang berhenti ngopi karena punya maag akut, tersugesti menyeruput dan tak ada reaksi dari si empunya perut, mungkin saja si maag lagi tidak mau kambuh, atau bisa jadi karbon aktif yang membara itu memang bereaksi dalam mengurangi asam kafein.
Cerita kopi joss atau kopi arang ini, menjadi seru dan asik malam itu, karena merapi ternyata belum usai dengan letusan pertamanya. (#Catatan2010)
Malam ini, Rasanya ingin menjadi barista meracik kopi joss dalam atap mega bintang, berteman selimut kabut, bukit barisan. Namun apala daya kopi dan gula tersedia, nesting tertinggal.

Thursday, September 8, 2016

Haruskah Kita berhenti Ngopi ? : Sruput Kopi AWAS Hasil Perambahan Hutan !!!


Perambahan di pondok tepian hutan

Sejumlah jurnal menjadi pembanding antara teori dan sintesa sebagai bahan pendukung dan penyangkal dari apa yang saya tulis ini.... sesaat tarikan kretek dan sruputan kopi menjadi kawan dalam mengeja makna tiap jurnal.

Adahal yang menarik tentang tutupan vegetasi yang ternyata sejak jaman belanda sudah di petakan.

Catatan WRI (word resources Institut) bahwa pada tahun 1950, lembaga yang pada waktu itu disebut Dinas Kehutanan Indonesia menerbitkan peta vegetasi untuk negara ini. Dari peta ini disimpulkan bahwa hampir 84 persen luas daratan Indonesia waktu itu tertutup hutan primer dan sekunder serta perkebunan seperti teh, kopi dan karet, menghasilkan peta ini menggabungkan seluruh tipe perkebunan ke dalam kategori "hutan" sehingga rincian luas masing-masing tidak dapat disebutkan secara pasti.

Namun demikian, jelas bahwa pada tahun 1950 luas perkebunan skala besar dan perkebunan skala kecil tidak begitu mempengaruhi hutan. Catatan-catatan jaman penjajahan Belanda dari tahun 1939 menyebutkan bahwa perkebunan skala besar luasnya mencapai sekitar 2,5 juta ha "yang dieksploitasi" dan sebenarnya hanya 1,2 juta ha yang ditanami.

Sektor ini mengalami stagnasi selama tahun 1940- an dan 1950-an, dan luas lahan yang ditanami baru mencapai luas seperti yang ada pada tahun 1939 setelah ditanam ulang pada tahun 1970-an. Luas perkebunan skala kecil hanya mencapai 4,6 juta ha pada tahun 1969, dan sebagian besar dari luas kawasan ini ditanami pada tahun 1950-an dan 1960-an (Booth, 1988). Hutan jati di Jawa luasnya mencapai 824.000 ha pada tahun 1950 (Peluso, 1992: Lampiran C). Penyebab utama pembukaan hutan yang terjadi sampai tahun 1950 adalah untuk kepentingan pertanian, terutama untuk budidaya padi.

Masuk akal jika disimpulkan bahwa luas hutan tanaman dan perkebunan tidak lebih dari 4 juta ha pada tahun 1950, dan sisanya sekitar 145 juta ha berupa hutan primer dan 14 juta ha lainnya adalah hutan sekunder dan hutan pantai yang dipengaruhi pasang surut.

Pada periode 2000 – 2012, sebuah studi melaporkan bahwa Indonesia telah kehilangan 6,02 juta hektar hutan primernya, dengan rata-rata pertambahan kehilangan 47,6 ribu hektar pertahun. Bahkan pada tahun 2012 diperkirakan Indonesia telah kehilangan 0,84 juta hektar hutan primer.

Berdasarkan hasil citra yang diinterpretasikan oleh para ahli, kehilangan hutan primer di sumatera meningkat karena terjadinya konversi dari kawasan hutan menjadi peruntukan lain, yaitu peruntukan perkebunan dan hutan tanaman industri.

Ketika saya mencoba melakukan analisa citra NVDI (Normalized Difference Vegetation Index) dari citra tahun 1995 dengan di bandingkan citra tahun 2010 dan membandingkan kembali citra satelit tahun 2016, pernyataan di atas benar bahwa kawasan hutan, tidak saja hutan lindung hutan konservasipun beralih fungsi menjadi ladang-ladang kopi, kebun-kebun masyarakat, sebagian kecil yang sedikit heran menjadi kebun teh yang jelas masuk tapal batas kawasan.

Analisa NVDI dari Citra satelit adalah cara cepat dan mudah serta akurat dalam mendeteksi perubahan penggunaan lahan, beberapa tutupan hutan memang ada yang berubah secara alamiah karena longsor, namun beberapa tampak jelas wajah Bopeng alias kotak-kotak kapling yang teridentivikasi tanaman perkebunan kopi.

Membaca copy hasil penyelidikan polres Kepahiang, bahwa ada 9 petani perambah telah di tetapkan sebagai tersangka perambah hutan yang membuka kawasan konservasi menjadi kebun kopi. Dari titik koordinak yang disebut sang Brida penyidik, begitu di cocokan dengan peta analisa NVDI, tak menjadi ragu bahwa kawasan konservasi itu telah beralih fungsi menjadi kebun kopi.

Seseorang toke kopi di kota kepahiang mengatakan bahwa perambahan sudah berlangsung sejak lama, karena si "toke" sendiri mengaku "sudah membeli kopi hasil perembahan hutan sejak 2013 lalu". Pengakuan toke yang juga menjadi tersangka sudah cukup jelas, bahwa bukan soal perambahan hutan TWA, namun ini soal EKONOMI, negara harusnya hadir menjawab masalah ini tegas si Penyidik.

AHH, sayapun berpikir ini soal perut, namun malaikat juga berkata ini soal hajat hidup orang banyak, jika hutan terus di rambah, daya dukung ekosistem tidak mampu menopang, maka bencana akan datang....

Terhenyak, sejenak dalam setumpuk ketik-kan ada keraguan saat menyeruput kopi pagi ini......apakah bubuk-bubuk kopi yang dikemas apik ini termasuk hasil perambahan, ada keraguan dalam bayang kecintaan terhadap pahitnya kopi ini dengan kenyataan yang ada. sepertinya Kemenrindag juga selain menulis label haram juga perlu label bukan hasil dari perambahan hutan.

Sumber :

WRI 
Mongabay

Wednesday, September 7, 2016

Secangkir Kopi dan Nyanyian Siamang Rimba


Pagi dalam mendung, seseorang duduk tenang, menggengam sebuah parang tebas yang terasah, gps dalam saku kemeja hitam, sebuah DSLR terbungkus rapi dalam drybag, kepulan asap djisamsoe terasa nikmat seperti candu. Tapi ingatannya, mengembara ke dalam cangkir kopinya, jauh ke pagi nan sunyi di dalam belantara, hanya terdengar sayup-sayup nyanyian siamang rimba. secangkir kopi barangkali adalah pelukan yang meneduhkan. tapi kita orang yang kehausan, di ladang ilmu dan iman.
Ah setidaknya apa yang akan tertulis nanti adalah sebuah bukti dan kajian ilmiah yang tak terbantahkan bahwa hilangnya nyanyain sang siamang rimba itu adalah sebuah tanda bencana ekologi akan datang pada waktunya. " Hutan tanpa satwa liar adalah ekosistem yang mati secara ekologis” (ecologically dead) (Redford 1992).
Saya menganalogikan " Hutan tanpa satwa persis seperti rumah tanpa penghuni. Rumah, betapapun bagus dan kuatnya, tanpa kehadiran manusia akan hancur, karena tidak terpelihara".
Demikian pula fungsi kehadiran satwa dalam ekosistem hutan. Setiap jenis satwa di dalam ekosistem hutan, memiliki peran (niche) yang saling mendukung untuk mencapai keseimbangan ekologi.

Sunday, August 14, 2016

Kopi Kapal Perang Kopinya Perwira Rasa Jurnalis


Kopi Kapal Perang sajian #KopiPerwira, yang Merasakan Para Jurnalis, Selamat bertugas #KRI #ImamBonjol383 di #BumiRafflesia

Wednesday, January 20, 2016

Dimana anda Ngopi ? Pastikan secangkir kopimu bukan dari hutan yang terambah



Dimana anda Ngopi ? Pastikan secangkir kopimu bukan dari hutan yang terambah

 #kopihitam #kopiindonesia #LadangPerambah #HutanLindung #Rajemendare #ExploreBengkulu #MountPatah
Lentera Merah My web Lenteramerah https://pojoklenteramerah.blogspot.co.id/