Showing posts with label Keragaman Hayati. Show all posts
Showing posts with label Keragaman Hayati. Show all posts

Thursday, October 13, 2016

Ungko Gunung (Hylobates a. agilis) Penghuni Hutan Lindung Bukit Daun Reg 5 Menanti Kepunahan



Pagi itu lalu lintas di jalan litas Bengkulu Kepahiang, sedikit lenggang suasana pegunungan hutan hujan tropis terasa alami, suara kicau burung terdengar jelas, seketika suara sayup-sayup memanggil dari rimbunan kanopi pohon di sebuah puncak bukit di pinggir jalan, ngukk- ngiuk… saling bersahut-sahutan, sayapun menghentikan laju sepeda motor dan mengeluarkan kamera lengkap dengan lensa tele, mencari sumber suara, beberapa petik foto jelas bahwa suara itu berasal dari sang pemiliknya yaitu primata dari family Hylobatidae dengan nama spesies Hylobates agIlis agilis, atau yang di kenal dengan nama lokal dengan sebutan Owa , wau-wau atau ungko.
Ungko masih memliki kekerabatan dengan Siamang yang berwana hitam, dari bentuknya menyerupai hanya saja warna coklat krem yang membedakan antara owa dengan siamang yang berwarna hitam polos.

Pengamatanpun semakin asik, sambil jongkok di atas bebatuan di pinggir jalan raya, terlihat jelas secara spesifik ungko gunung ini memiliki ciri morfologi yang khas, pada pejantan dewasa memiliki warna rambut yang lebih terang dari betina pada bagian sekeliling pipi hingga dagu (abu-abu hingga coklat muda ke emasan). Penulispun mencoba menghitung jumlahnya, terlihat dari pergerakannya di rimbunan kanopi hanya terdapat 4 ekor, 2 ekor usia dewasa, dua ekor tampak usia remaja. Sang induk tampak sedang melakukan rutinitas harian, berkutu-kutuan (grooming), sedangkan si jantan memandang sekeliling di puncak pohon tertinggi sambil mengeluarkan suara-suara yang sepertinya menandakan wilayah teroterial kelompoknya.

Perjumpaan dengan owa di Hutan Lindung Bukit Daun Register 5 pada jalan lintas ini cukup mengagetnya, pasalnya primata ini sangat sensitif terhadap perubahan habitat. Berdasarkan catatan penulis di kawasan ini di temukan 4 jenis primata yaitu, Simpai (Presbytis m.melalophos), Lutung (Trachypithecus cristatu.ssp), Siamang (Symphalangus syndactylus), Kukang (Nycticebus coucang),  dan Monyet ekor panjang (Macaca fasicularis).

Penemuan primata jenis owa gunung ini sangat menyenangkan namun juga memprihatinkan, pasalnya, setelah mengambil dua titik koordinat lokasi pengamatan dengan menggunakan GPS dari sudut yang berbeda, dan melakukan intersection dalam menentukan koordinat target dengan bantuan kompas bidik, sangat jelas pohon tempat siamang beraktivitas tersebut berada di pohon yang hutannya telah dikeliling perkebunan kopi masyarakat.

Keindahan dan hawa sejuk hutan alami di jalan lintas Bengkulu- kepahiang hanyalah kamuflase belaka dari perambambahan-perambahan hutan untuk perkebunan kopi masyarakat, kawasan yang telah di tetapkan sebagai Hutan Lindung dan sebagian kecil telah menjadi Cagar alam ini kian tahun terus mengalami deforestasi. Padahal jelas di kawasan HL Bukit daun register 5 ini memiliki keragaman hayati yang tinggi tak hanya jenis-jenis primata yang di lindungi, kawasan ini juga merupakan habitat Rafflesia arnoldi dan bunga bangkai.

Saat di temui tokoh pemuda yang melakukan pengawasan terhadap habitat Rafflesia,  Ibnu mengatakan bahwa sebagian besar perambah banyak pendatang yang bukan asli dari dusun kami, yang kami takutkan pohon-pohon inang yang menjadi habitat Rafflesia juga ikut di tebang dan pastinya sangat sulit menemukan rafflesia mekar nantinya, terang Ibnu tokoh pemuda desa Taba Rena, Kabupaten Bengkulu Tengah, yang mengetuai kelompok Pelestari Rimba Rafflesia Taba Penanjung. Ibnu menambahkan kalau perburuan satwa liar sudah tidak ada lagi, sejak polisi kehutanan sering melakukan sosialisasi dan melakukan penangkapan para pemburu serta pemelihara siamang ilegal, warga tidak berani, terang Ibnu.

Berdasarkan RTRW Provinsi Bengkulu bahwa, Kawasan Hutan Lindung Bukit Daun, dengan luas 90.805,07 Ha, yang terletak wilayah Kabupaten, yaitu : Rejang Lebong, Lebong, Kepahiang, Bengkulu Tengah  dan Bengkulu Utara.
Hasil analisa citra satelit yang di lakukan oleh penulis, pada kawasan HL Bukit Daun yang berada di dua wilayah Kabupaten Kepahiang dan Kabupaten Bengkulu tengah ini telah mengalami kerusakan yang parah, dari total luasan Hutan lindung Bukit Daun yang berada di Kabupaten Kepahiang ada sekitar 7.829,00 Ha dan kabupaten Bengkulu Tengah sekitar 20,002.7  Ha, saat ini hanya tersisa 30 % atau sekitar 8.348,91 Ha hutan alami, selebihnya telah beralih fungsi menjadi perkebunan masyarakat dan semak belukar.

Kawasan Hutan Lindung Bukit Daun di Kabupaten Bengkulu Tengah yang di rambah

Dikutip dalam Jurnal Primatology, Prof. Timothy G O'Brien, peneliti senior konservasi dan zoology di WCS (Wildlife Conservation Socety) menjelas bahwa Ungko gunung membutuhkan hutan alami sebagai rumah dan jelajah untuk kelangsungan hidup mereka. Dimana 60 % pakan dari satwa ini adalah buah kayu yang terdapat dihutan alam, 30 % dedaunan atau pucuk muda kayu hutan alam, 10% Buah kayu beringin dan 10% berupa buah rotan dan lumut. Artinya Owa gunung sangat berperan dalam penyebaran biji-bijian (disperser) karena mereka memakan buah-buahan.

Timothy G O'Brien juga menjelaskan dalam penelitian studi populasi ungko gunung (Hylobates a. agilis) dan permasasalahan di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan Lampung, bahwa Ungko gunung sangat penting dalam regenerasi hutan tropik. Keberadaan ungko di suatu kawasan hutan juga dapat dijadikan indikator kesehatan hutan. Mobilitas ungko sangat tergantung kepada tajuk pohon yang saling berhubungan. Jika ungko sudah tidak ada lagi pada kawasan hutan maka dapat diindikasikan sebagai hutan yang sudah rusak.

Ahli ekologi dan Keragaman hayati Universitas Bengkulu Agus Susatya saat di berdiskusi dengan penulis via telepon pada Rabu pagi ( 12/10/2016) mengatakan, bahwa kondisi kawasan Hutan lindung Bukit daun register 5 sudah sangat memprihatinkan secara administrasi  kawasan ini di kuasai oleh dinas kehutanan Provinsi Bengkulu,  namun tumbuh dan satwa liar khususnya yang di lindungi merupakan tupoksi BKSDA Bengkulu.

Agus sutsaya menjelaskan lebih lanjut kepada penulis “butuh strategi dalam melakukan perlindungan kawasan secara arif, dan ekowisata adalah pintu masuk dalam upaya pelestarian hutan yang dapat meningkatkan kesejahteran masyarakat sekitar kawasan, terang Agus yang mengajar di Jurusan Kehutanan dan Pasca sarjana PSDAL Universitas Bengkulu.

Oleh : R.Tri Prayudhi
Penulis Mahasiswa Pascasarjana Program Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Universitas Bengkulu yang sedang melakukan Penelitian Spastial Kesesuaian Habitat keluarga Hylobatidae di Bengkulu

Dipublikasikan oleh Sudutruang.com dan Rakyat Merdeka Online (RMOLBengkulu)

Giant Flower Rafflesia Arnoldi

Habitat Rafflesia Arnoldi di Bengkulu Terancam rusak. akibat perambahan hutan lindung untuk perkebunan kopi

Giant Flower Amorphophallus Gigas

Amorphophallus Gigas merupakan Bunga Bangkai atau Suweg adalah sekelompok tumbuhan dari genus Amorphophallus yang merupakan anggota dari famili dari Araceae (talas-talasan). 


Wednesday, October 12, 2016

Dua flora Raksasa Langka Mekar Di Kawasan Lindung Terambah


  
RMOL. Dua jenis bunga langka mekar bersamaan di kawasan hutan lindung Bukit Daun, yaitu Rafflesia Arnoldi dan bunga Amorphophallus Gigas. Kedua flora langka tersebut selama ini terus menjadi daya tarik bagi para wisatawan, dan kedua spesies langka ini telah di tetapkan sebagai icon wisata Bengkulu.

Bunga Bangkai atau Suweg adalah sekelompok tumbuhan dari genus Amorphophallus yang merupakan anggota dari famili dari Araceae (talas-talasan). A. gigas yang mekar kali ini merupakan hasil penangkaran milik keluarga Holidin yang tinggal di Desa Tebat Monok, Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu, hanya 30 meter menuruni anak tangga dari pinggir jalan raya lintas kabupaten sudah langsung dapat melihat keindahan bunga raksasa ini.

Sudah ketiga kalinya bunga A. Gigas mekar di lokasi penangkaran kami," ungkap Zuljumdi Hamzah (46) Penangkar Bunga Bangkai dari 7 bersaudara Holidin. Sebelumnya jenis yang sama mekar pada bulan Maret 2016 setinggi 4 meter mekar dan pertama kalinya jenis A. Gigas mekar pada tahun 2013 sejak kami mengelola lahan penangkaran ini yang telah dirintis oleh keluarga Holidin sejak tahun 1998.

Kami sekeluarga sudah hampir 20 tahun telah melakukan upaya penangkaran di lahan yang kami kelola di pinggir jalan lintas kabupaten Bengkulu-Kepahiang ini, ungkap Edi adik Holidin saat di temui RMOL, beberapa hari lalu.

Sedangkan Bunga Rafflesia Arnoldi yang mekar di berbarengan tak jauh dari lokasi mekarnya A Gigas tumbuh di dalam kawasan Hutan lindung bukit daun register 5.

Beberapa pemuda warga desa yang menyebutnya sebagai kelompok pelestarian rimba rafflesia bekerja secara sukarela memasang spanduk di pinggir jalan untuk menghimbau para pengguna jalan untuk mampir melihat bunga raksasa ini.

Kelompok warga desa yang di ketuai oleh Ibnu ini kurang lebih hampir 10 tahun mengawasai habitat Rafflesia di kawasan HL blBukit dlDaun secara sukarela. Ibnu yang juga aktif di media social Facebook dengan Akun Ibnu Gilang itu, terus mengupdate informasi mengenai mekarnya rafflesia di kawasan ini.

Tidak jauh bang hanya 30 meter, hanya satu yang mekar namun banyak bongkolnya yang siap mekar 2-6 bulan kedepan, ujar ibnu sambil memandu para pengunjung yang menuruni jalan setapak rintisan yang di buat oleh kelompok pelestari rimba rafflesia ini.

Dalam penamaan lokal suku Rejang Bunga Rafflesia di sebut Bungei Sekedei atau bunga Bokor Setan dan sebagian lagi menyebutnya Ibeun Sekedei atau Cawan Hantu. Sedangkan suku Serawai menyebutnya Begiang Simpai atau Bunga Monyet. Sedangkan untuk Bunga Armophopalus disebut sebagai bunga bangkai, Suweg Raksasa Atang Krebuit (nama lokal untuk fase vegetatif).

Kedua jenis flora langka ini telah di tetapkan sebagai icon Provinsi Bengkulu, namun hingga saat ini tidak ada tindakan nyata pemerintah dalam upaya pelestarian flora langka ini. Dalam penelusuran RMOL di kawasan Hutan Lindung Bukit Daun Register 5 ini sebagian besar telah di rambah menjadi perkebunan kopi hal ini diungkapkan oleh Ibnu.

Agak susah kita memberikan penyadaran kepada warga, untuk dilarang membuka kebun kalau tidak ada tindakan tegas dari pemerintah dan kompensasi buat warga yang telah telanjur membuka kawasan ini, kata Ibnu.

Hal senada diungkap oleh Edi(43) dan Zuljumdi Hamzah (46) kakak-beradik warga Tebat Mono, Kepahiang yang melakukan penangkaran Bunga Bangkai tak jauh dari hutan kawasan.

Saya sekeluarga khususnya kakak kami holindin, sering kali mengingatkan kepada warga jika berkebun, ketemu batang kibut jangan di tebang atau di semprot dengan herbisida. Sebab, semakin tahun penurunan kwalitas habitat di kawasan ini semakin parah tegas edi.

Dikutip dari website resmi LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) berdasarkan Ahli Konservasi Tumbuhan dari IPB, Ervizal AM Zuhud dalam Prosiding Seminar Nasional Puspa Langka Indonesia (2001) mengatakan, habitat Rafflesia Arnoldi di Bengkulu sudah rusak. Sebagian besarnya berubah menjadi ladang kopi, seperti yang terjadi di Taba Rena.

"Habitat Rafflesia Arnoldii di Taba Rena, Bengkulu di hutan alamnya hanya tersisa di kanan kiri jalan saja, selebihnya masuk kedalam lembih jauh lagi sudah menjadi kebun kopi masyarakat, " jelas Ervizal.

Ahli ekologi dan Keragaman hayati Universitas Bengkulu Agus Susatya saat di wawancara RMOL via telepon pada Rabu pagi ( 12/10/2016) mengatakan, bahwa kondisi habitatnya kedua Flora langka ini di kawasan HL Bukit Daun saat ini mengalami penurunan kualitas karena habitatnya yang terdesak.

"Permasalahan lainnya karena stastus kawasan Hutan Lindung yang secara langsung tindakan perlindunganya tidak terlalu terlihat nyata dari instasi-instasi terkait yang bertanggung jawab, tegas Agus Susatya.

Agus Susatya yang merupakan peneliti yang menemukan Spesies Rafflesia Bengkuluensis ini menjelaskan kepada RMOL, bahwa harus segera dilakukan strategi pengembangan ekowisata berbasis masyarakat dengan pola kemitraan multipihak. Strategi konservasi ini harus dilakukan dengan pemahaman bahwa masyarakat merupakan bagian dari solusi. Intinya, pemberdayaan masyarakat dengan ekowisata dan Rafflesia menjadi lokomotif dalam menjual potensi wisata di Bengkulu.

Dalam pelaksanaannya, kata Agus Susatya, harus melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, LSM, dan sektor swasta. "Tanpa dukungan dan keterlibatan berbagai pihak, upaya konservasi ini akan sulit dilakukan, ujar Agus. [***]

Tulisan ini dikemas ulang dari catatan perjalanan yang di muat RMOL Bengkulu

Tuesday, September 6, 2016

Nyanyian Siamang Si Primata Setia Tak Gemar Selingkuh

 Habitat adalah kawasan yang terdiri dari berbagai komponen, merupakan kesatuan fisik  dan  biotik,  dipergunakan  sebagai  tempat  hidup  serta  berkembang biak. Habitat  dengan  vegetasi  yang  memiliki  tajuk  kontinyu  antara satu  pohon  ke  pohon  lainnya  berperan  penting  bagi siamang dalam  melakukan pergerakan brakhiasi dengan cepat untuk berayun dari pohon ke pohon lain karena siamang jarang turun ke lantai huta.

Siamang menghabiskan sebagian besar hidupnya diatas pohon. Kehidupan mereka didominasi dengan bergelantung dari satu Ketika bergerak lambat, mereka memegang satu cabang dengan satu tangan, sedangkan tangan yang satunya belum dilepas dari cabang yang sebelumnya cabang ke cabang lain. Proses yang dilakukan seperti ini disabut brachiating. Ketika tangan berhasil memegang cabang yang ke dua, tangan baru akan melepas cabang yang pertama dan beralih ke cabang ke tiga.


Ketika bergerak cepat, siamang sering melepas pegangan tangan yang ada dicabang pertama, kemudian bergelantung memegang cabang kedua. Proses seperti ini membutuhkan tenaga yang lebih. Ketika melakukan brachiating, posisi jari tangan seperti memegang pada manusia(empat jari bergabung menjadi satu sementara jari yang satunya berada pada posisi yang berlawanan dari empat jari yang lain). Siamang juga dapat berjalan dipohon dan cabang-cabang kecil menggunakan kakinya yang dibantu oleh tangan terulur untuk membantu menjaga keseimbangan. Siamang dapat melompat dari satu cabang ke cabang pohon yang lain. Dalam satu lompatan dapat mencapai 30 kaki atau 9 m. Salah satu kelemahan siamang adalah tidak suka air dan tidak dapat berenang.


Penyebaran Hylobates tergantung  pada  kualitas habitatnya.   Kualitas  habitat  yang  semakin  baik, akan semakin  banyak  jumlah kelompok  yang  ada  di  dalamnya. Jarak  antar  kelompok semakin  berdekatan  dan angka  kepadatannya  juga  semakin  tinggi. Siamang  menempati  hutan  tropis primer  atau  sekunder   mulai   dari   dataran   rendah   hingga   perbukitan   dengan ketinggian  3800  m.   Penyebaran siamang di Sumatera  tersebar luas mulai dari Sumatera bagian utara(Aceh) hingga  kebagian  selatan. Siamang di  Sumatra  terdapat  di rangkaian  Pegunungan  Bukit Barisan yang  terletak  memanjang  di  bagian  barat Sumatra dan lebih menyukai hutan dataran rendah dan perbukitan.


Keberadaan siamang di alam liar semakin terancam, karena berubahnya habitat menjadi kawasan perkebunan. Salah satu habitat siamang di Provinsi Bengkulu adalah Bukit Kaba, kawasan yang telah di tetapkan sebagai Taman Wisata Alam, yang memiliki dasar hukum sebagai kawasan konservasi, kian kini, populasinya mengalamni keterdesakan akibat perambahan hutan di seluruh kawasan sabuk Bukit Kaba, khususnya di wilayah kabupaten Kepahiang hingga Bengkok,.

Kawasan ini telah di rambah hingga mencapai 2 Km mendekati puncak gunung Kaba yang merupakan Gunung api aktif tipe A. tak hanya di bagian sisi selatan di sisi utara, bagian Air Meles yang masuk wailayah Rejang Lebong, kawasan Taman Wisata alam inipun memiliki wajah-wajah bopeng jika di lihat dari peta googlemap.

Selain terdesak oleh habitat, faktor yang mempercepat kepunahan siamang dikarenakan, memiliki nilai jual sebagai “komoditi” perdagangan illegal sebagai binatang eksotik menjadi ancaman tersendiri bagi hidup siamang di alam, terutama anak siamang. Karena anak siamang terlihat sangat lucu dan menggemaskan. Untuk mendapatkan anak siamang, biasanya pemburu akan membunuh induknya terlebih dahulu, karena induk siamang sangat protektif terhadap anaknya.

Keberadaan satwa khas sumatera ini khususnya di TWA bukit Kaba, tak akan lama lagi mengalami kepunahan secara lokal, jika tidak dilakukan tindakan nyata dalam upaya konservasi, seperti penegakkan hukum, pembinaan masyarakt lokal, restorasi kawasan hingga upaya patroli yang harus dilakukan rutin petugas, maupun masyarakat yang telah di latih dan di bina.

Siamang Bukan Tukang Selingkuh

Siamang  merupakan spesies yang  bersifat monogamous. Satu kelompok keluarga terdiri dari  satu  jantan  dewasa,  satu  betina  dewasa  yang sampai memiliki 4 keturunan, Dalam kelompok tersebut terdiri  beberapa  individu  muda. Pada habitat aslinya,  rerata ukuran kelompoknya empat ekor. Siamang dewasa siap bereproduksi pada usia sekitar 5-7 tahun, dengan masa bunting sekitar 8 bulan, dan biasanya anak yang dilahirkan hanya satu ekor. Siamang muda akan hidup bersama orangtuanya setidaknya sekitar 5-7 tahun. Sifat monogami, ini mengartikan bahwa siamang adalah primata yang setiap pada pasangannya alias tidak akan selingkuh alias tidak akan mendua sepanjang hidupnya dengan satu pasangan, membesarkan anak-anaknya hingga remaja dewa dan si anak memiliki kelompok sendiri. Benar-benar  hidup berpasangan yang didalam pasangan tersebut terdapat kesetiaan yang tinggi.

Nyaynian Siamang

Komunikasi merupakan suatu perilaku yang sangat penting bagi makhluk hidup. Organisme dapat bertukar informasi antar satu sama lain secara efektif dengan menggunakan sinyal saat berkomunikasi, salah satunya yaitu menggunakan sinyal berupa suara atau vokalisasi, sama halnya dengan manusia. siamang (Hylobates syndatylus) dari kelompok Gibbon yang merupakan satwa endemik Indonesia, memiliki ciri khas berupa vokalisasi. Sinyal suara pada siamang digunakan sebagai suatu alat komunikasi antar individu dalam satu kelompok atau kelompok yang berbeda.

Setiap pagi, kelompok siamang menimbulkan suara yang sangat keras untuk mengumumkan posisinya dihutan. Suara ini merupakan penanda bahwa wilayah tersebut merupakan daerah kekuasaan  (teritorial), sekaligus sebagai pengaturan ruang antar kelompok, atraksi kawin,  dan  untuk  mempererat  hubungan  sebagai  pasangan  kawin  (Bates,  1970;  Leighton,  1987;Cowlishaw,  1992). Nyanyian  Hylobatidae ini cukup  nyaring melengking  sehingga  dapat  terdengar  sampai  1  km  bahkan terdengar sampai 2 km.

Sinyal suara yang berupa “nyanyian” dikeluarkan setiap pagi. Jantan dewasa siamang akan menjadi perwakilan kelompok jika terjadi konflik batas wilayah atau gangguan yang lainnya dengan melakukan tindakan agresif. Hal tersebut merupakan salah satu cara untuk mengurangi jumlah energi yang dikeluarkan oleh kelompok dalam mempertahankan teritorialnya.

Sinyal komunikasi tersebut digunakan oleh penerima (individu atau kelompok lain) untuk mengklasifikasikan pengirim sebagai satu anggota atau dari kelas lain . Hal tersebut dikarenakan hewan dapat menunjukkan kemampuannya dalam mengenali dan membedakan individu sejenis dan lainnya pada berbagai tingkat organisasi sosial. Sehingga dapat diperkirakan akan ada perbedaan nyanyian pada setiap individu siamang.

Nyanyian siamang terdiri dari tiga fase: bagian pembukaan, dimana mereka memulai latihan melemaskan badan; nyanyian berikutnya duet antara jantan dan betina, dan suara dari betina yang lambat laun menjadi tinggi (great calls). Aktivitas berusara digunakan sebagai pemberitahuan, menyatakan kehadiran mereka pada kelompok tetangga. Ini sebagai petunjuk untuk konfrontasi dalam batas kebersamaan, kadang–kadang untuk menunjukkan sifat menyerang.siamang juga bisa bersuara keras, teriakan dapat lebih keras pada saat ada usikan seperti dari manusia atau Macan tutul.

Mendengarkan suara siamang bersautan di dalam hutan, buat saya seperti mendengarkan suara okestra Rimba, dengan komposer handal, jika hutan tanpa nyanyian satwa liar bisa dikatakan hutan tersebut telah mati,

Berikut lima fakta tentang Siamang

1. Siamang merupakan satwa yang setia. Iya, dalam hidupnya satwa ini hanya akan memiliki satu pasangan hidup saja. Berbeda dengan kawan-kawannya yang lain, satwa ini monogami permanen. Jadi, kalo salah satu pasangannya diburu, apa yang terjadi dengan pasangannya yang lain? Seperti itulah. So sweet ya.

2. Siamang merupakan penebar benih yang baik. selain omnifora, siamang lebih menyukai buah-buahan sebagai makanan intinya. Tentunya, feses yang doi keluarkan akan tersebar sebagai benih seiring dengan pergerakan Siamang. Semakin jauh pergerakan siamang, tentunya semakin luas juga persebaran benih dari tanaman yang sudah doi makan. Intinya, selalu ada regenerasi hutan. Baik bukan bagi Bumi ini?

3. Siamang gesit dan memiliki nyanyian merdu. Ya, pergerakan siamang tergolong gesit terlebih ketika doi lagi bergelantungan di dahan dan ranting pohon. Selain itu, ketika memulai aktivitasnya di pagi hari, siamang selalu mengeluarkan suara-suara seperti nyanyian. Dan bagi para pendaki ataupun peneliti di hutan, nyanyian siamang  ini khas dan unik sehingga dianggap paling merdu dibandingkan dengan kera lainnya.

4. Siamang si Raja Pohon. Maksudnya, hampir selama hidupnya siamang ini selalu diam diatas pohon alias arboreal sejati. Namun, walaupun begitu siamang mampu dan sering berjalan dengan menggunakan kedua kakinya. Ya, doi mampu berjalan tegak tanpa menggunakan tangannya. Keren kan?

5. Siamang memprihatinkan! Seperti yang udah disebutkan diatas, satwa ini tergolong satwa yang terancam punah. Selain itu, menurut CITES satwa ini termasuk Appendix 1 yang artinya tidak bisa diperjualbelikan sama sekali.


Lentera Merah My web Lenteramerah https://pojoklenteramerah.blogspot.co.id/