Showing posts with label Galeri Foto. Show all posts
Showing posts with label Galeri Foto. Show all posts

Saturday, October 22, 2016

Simpai Penghuni Hutan Lindung Bukit Daun



RMOL. Simpai (Presbytis m. melalophos) penghuni Hutan Lindung Bukit Daun sedang memakan biji. Deforestasi kawasan hutan Lindung Bukit Daun di Kabupaten Bengkulu Tengah, akibat perambahan hutan untuk perkebunan kopi mempengaruhi habitat Simpai yang merupakan primata pemakan daun dan buah-buahan. Secara langsung berpengaruh pada penyebaran benih sehingga mempengaruhi kelangsungan hidup hutan yang berdampak pada penurunan drastis dalam penyimpanan karbon alami Bumi. [Rizky T/***]

Foto di Publish di Rakyat Merdeka Online Bengkulu

Thursday, October 13, 2016

Ungko Gunung (Hylobates a. agilis) Penghuni HL Bukit Daun Menanti Kepunahan

RMOL. Ungko Gunung dapat dijadikan indikator kesehatan hutan, tampak beraktivitas di pohon yang hutannya telah dikepung perkebunan kopi.
Primata penghuni Hutan Lindung (HL) Bukit Daun  ini tengah berjuang melawan kepunahan. [***]
Foto ini di publikasi oleh RMOL Bengkulu
artikel lengkap Ungko Gunung

Giant Flower Rafflesia Arnoldi

Habitat Rafflesia Arnoldi di Bengkulu Terancam rusak. akibat perambahan hutan lindung untuk perkebunan kopi

Giant Flower Amorphophallus Gigas

Amorphophallus Gigas merupakan Bunga Bangkai atau Suweg adalah sekelompok tumbuhan dari genus Amorphophallus yang merupakan anggota dari famili dari Araceae (talas-talasan). 


Wednesday, September 21, 2016

Selamat Bertugas Komandan Di Medan Tugas Baru

BENGKULU – Pangkalan Angkatan Laut (Lanal) Bengkulu, kembali berganti kepemimpinan. Terhitung kemarin (21/9), Letkol Laut (P). Fajar Rusdianto resmi menggantikan Letkol Laut (P). M. Nizar Gadafi.

 Upacara serah terima jabatan (sertijab) itu berlangsung di Mako Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut (Lantamal) II, Padang. Sertijab pun dipimpin langsung Danlantamal II Padang Laksma TNI R. Achmad Rivai SE, MM.

Komandan Pakalan Utama Angkatan Laut II Padang  Laksamana Utama TNI  R. Achmad Rivai mengatakan, serah terima jabatan di lingkungan TNI Angkatan Laut mengandung makna penting dan strategis. Khususnya untuk meningkatkan kualitas kinerja organisasi.

Letkol Laut (P). M. Nizar Gadafi adalah sosok komandan yang sangat akrab di lingkungan wartawan, para Pecinta Alam, Komunitas lingkungan, Penyelam,  hal ini karena Gadafii sering melakukan kegiatan bersama, dalam rangka pembinaan lingkungan dan kegiatan pembinaan pemuda.

Pesan terakhir ketika peringatan HUT NKRI di Pulau Enggano, Gadafi mengatakan "Sebagai komandan pangkalan Angkatan Laut, saya turut bertanggung jawab dalam melakukan pembinaan generasi muda, serta aktif pula dalam upaya pelestarian lingkungan di pesisir Bengkulu. Lanal Bengkulu akan selalu siap membantu adik-adik ini untuk beraktifitas," jelas perwira lulusan Akabri tahun 1996 yang asli putra daerah dari Tais kabupaten Seluma.

Selamat mendapat tugas baru sebagai Komandan Detasemen I******n Komando Armada RI Kawasan Barat. 


Tuesday, August 23, 2016

Wanita Sebagai Juru Damai Perang Antar Suku di Pulau Enggano.



Oleh: Redaksi




RMOL. Tari Perang adalah pagelaran kebudayaan yang mengisahkan pertempuran antar suku dalam memperebutkan wilayah kekuasaan, dimana peran para wanita sangat penting dalam perdamaian pertikaian antar suku.

Sebuah pertunjukan kebudayaan tradisional seusai upacara HUT RI di Desa Apoho, Pulau Enggano, Bengkulu Utara, Bengkulu, Rabu (17/8/2016). Para ibu-ibu dan wanita membentuk barisan melingkar mengepung para pria yang sedang bertempur, hal inilah yang menyebabkan dan berakhir dengan sebuah perdamaian. Tarian perang ini diperankan oleh 100 pemuda-pemudi warga suku asli Enggano. [Rizky. T]

Tari Perang Enggano

Oleh: Redaksi




RMOL. Tari Perang Masyarakat Suku Enggano mengisahkan pertempuran antar suku di Enggano yaitu suku Kauno, Kaitora, Kaarubi, Kaharuba, Kaohoa dan suku pendatang Ka'may dalam memperebutkan wilayah kekuasaan, yang berakhir pada perdamaian. Sebuah pertunjukan kebudayaan tradisional seusai upacara HUT RI ke 71 di Desa Apoho, Pulau Enggano, Bengkulu Utara, Provinis Bengkulu, Rabu (17/8/2016). Tarian perang ini diperankan 100 pemuda-pemudi serta para tokoh adat warga suku asli Enggano. [Rizky.T]

Monday, August 22, 2016

Panglima Perang Penjaga Hutan Suku Enggano

Hukum Ada Enggano, Mengatur Pemanfaatan  Sumberdaya Alam Secara Arif dan Bijaksana

Friday, August 19, 2016

Shalat Magrib di KRI Imam Bonjol-383



Oleh : Redaksi




RMOL. Meski harus terus berada di laut menjaga perairan Indonesia, para personel kapal KRI Imam Bonjol-383 tidak lupa beribadah. Semua yang beragama Islam khusyuk melaksanakan salat Magrib berjamaah, selepas melanjutkan pelayaran meninggalkan Pulau Enggano, pada Rabu sore (17/8/16).

Beberapa penumpang baik sipil maupun militer ikut sholat berjamaah bersama, tampak dalam sorotan awak media, Bupati Bengkulu utara Mian, Danrem 041 Gamas, Kolonel (inf) Andi Muhammad, komadan Lanal Bengkulu Letkol laut (P) Gadafi, Komandan KRI Imam Bonjol-383 Mayor Laut (P) Ali Setiandy beserta para prajurit TNI, Polri, dan wartawan ikut menunaikan salat. [***]

Sunday, August 14, 2016

HUT RI Ke-71 di Pulau Enggano Bersama KRI Imam Bonjol



Minggu, 14 Agustus 2016 , 15:58:00 WIB



RMOL. KRI Imam Bonjol yang dipimpin Komandan KRI Imam Bonjol, Mayor Laut (P) Ali Setiandy, Minggu pagi (14/8/2016) tiba di pelabuhan Pulau Baai Provinsi Bengkulu, kedatangan kapal perang anti kapal selam yang membawa kru pasukan dengan 60 personil atas perintah Armabar akan ikut serta dalam kegiatan HUT RI ke 71 di Pulau Enggano.[***]

Kopi Kapal Perang Kopinya Perwira Rasa Jurnalis


Kopi Kapal Perang sajian #KopiPerwira, yang Merasakan Para Jurnalis, Selamat bertugas #KRI #ImamBonjol383 di #BumiRafflesia

Sunday, July 10, 2016

Radio Jaman Dulu

Radio Republik Indonesia dengan siaran Kemerdekaan

Masih nemu radio jadul 5 band 

Wednesday, January 20, 2016

Dimana anda Ngopi ? Pastikan secangkir kopimu bukan dari hutan yang terambah



Dimana anda Ngopi ? Pastikan secangkir kopimu bukan dari hutan yang terambah

 #kopihitam #kopiindonesia #LadangPerambah #HutanLindung #Rajemendare #ExploreBengkulu #MountPatah

Kantong Semar Penanda Alam








































Kantong semar spesies Nepenthes pectinata, Foto ini di ambil di gunung Patah, pada ketinggian 2320 mdpl. Jika pada suatu kawasan atau areal di tumbuhi oleh #Nepenthes #gymnamphora, berarti kawasan tersebut tingkat curah hujannya cukup tinggi, kelembaban diatas 75 %, tanahnya pun miskin unsur hara. Tidak di gunung patah saja di temukan, di beberapa kereng gunung kaba 1973 mdpl dan Gunung Bukit Daun 2450 mdpl juga di temukan spesies ini.

#Flora #dilindungi #MountPatah #ExploreBengkulu#Wildlife #id_pendaki #id_mountaineers

7

Tuesday, September 8, 2015

Mendaki Gunung Bukan Soal Puncak : Burung-Burung Di Gunung Kerinci

Sekilas #kehidupanLiar di #Gunung #kerinci shelter 1 menuju shelter 2.

Sudah lama gak blusukan di tengah rimba raya, blusukan ini agak sedikit mirip dengan blusukannya mr presiden, bedanya mr presiden untuk kepentingan politik dan urusan negara, kalau saya blusukan di dalam hutan itu melampiaskan hasrat bercengkrama dengan kehidupan liar di tengah rimba raya.

Dalam perjalanan mendaki gunung saya lebih senang berada di posisi paling depan atau paling belakang sekali, tapi biasanya paling belakang sekali kalau tidak di tugaskan menjadi RPJ (regu pembuka jalur) nah karena paling belakang dan jauh dari derap langkah kawan2, keusialan saya sering timbul, berjalan pelan dan santai sambil celingak celinguk, kadang malah ndelosor di tengah semak semak, berburu keindahan yang buat saya sangat menakjubkan, yaitu mengintip, ups jangan negatif thinking loh, ini bukan ngintip pendaki yang mandi di sungai, tapi ngintip burung, ya, birdwatching, terkadang sangking asiknya gak terasa sudah 30 menit bahkan 1 jam berhenti berjalan tertinggal jauh oleh kawan kawan lainnya, hanya untuk mengabadikan aneka ragam jenis kehidupan liar, baik burung, serangga, ataupun jenis jenis anggrek.

Buat saya naik gunung tidak melulu harus ke puncak, tapi mengabadikan moment bersama kehidupan liar adalah tujuan saya mendaki gunung, dari beberapa gunung baik di jawa maupun di sumatera saya bisa mengenal keragaman jenis dan sebaran burung tersebut, bahkan kerutinan naik gunung di tempat yang sama, sering kali beberapa jenis burung yang tadinya mudah di temukan setelah beberapa tahun kemudian jenis itu sangat sulit di temukan di gunung yang sama dan sebaliknya, dari jenis burung yang awalnya tak menghuni hutan tersebut setelah waktu yang lama jenis itu sangat mudah ditemukan. Banyak faktor yang mempengaruhi, selain aktivitas manusia di gunung yang tak ramah lagi, faktor cuaca dan iklim juga mempengaruhi, apalagi faktor perburuan satwa liar.

Perjalanan pendakian kali ini, ke gunung Kerinci bukan sengaja untuk ngintip, tapi ya tadi keisengan blusuk blusukan dalam hutan, yang akhirnya saya sengaja untuk mengamati sejenak anekaragam jenis burung di sepanjang pendakian Gunung kerinci, dari shelter 1 ke shelter dua, kira kira di ketinggian 2020 mdpl sampai 3050 mdpl.

Walau iseng, kamera yang selalu standby di ransel akhirnya tergantung terus si leher agar momentum indah tak hilang, berjalan pelan pelan, agar langkah kaki tak berisik, mengatur nafas, agar ngosngosan nafas tak menganggu aktivitas burung, hasilnya asa banyak burung yang belum pernah saya jumpai seblumnya, sebagian kecil sudah pernah saya lihat secara langsung oleh mata ini, ada beberapa berhasil tertangkap kamera, dan sebagian besar cuma bisa melihat sekilas, bahkan ada yang hanya mendengar suaranya,

Diantaranya burung Cikrak mahkota coklat (Seicercus castaniceps) yang memiliki kebiasaan mencari makan pada tajuk pohon rendah di hutan pegunungan, secara lokal penyebaran burung ini hanya ada di sumatera dengan beberapa tempat seperti g sibayak kerinci, daerah bukut barisan antara ketinggian 1200-1400m, namun saat di saya mengamati burung ini, altimeter pada GPS berada di ketinggian 2400mdpl, di atas shelter 1. Secara global burung ini di temukan di Himalaya sampai cina selatan asia tenggara dan semenanjung malaysia dan sumatera.

 









Niltava sumatra adalah jenis burung dengan warna gelap jantan tubuh bagian atas biru tua mahkota bercak pada sisi leher dan sisi kepala hitam, tubuh bagian bawah jingga sedangkan betina tubuh bagian bawah coklat ada garis putih pada tenggoroka. Dan bercak biru berkilap pada bahu, sebaran lokal di jumpai umum di pegunungan sumatera bagian utara hingga paling selatan di gunung kerinci. dengan ketinggian di atas 1000 m sampai batas vegetasi secara global hanya di temukan di semenanjung malaysia dan sumatera.

Cikrak daun (Phylloscop trivirgatus) merupakan burung yang hidup di pohon pohon tinggi di hutan perbukitan dan pegunungan, serta pinggiran hutan sampai zona alpin, antara ketinggian 800 -3000 mdpl penyebaran lokal di jawa sumatera, bali di kalimantan di temukan di G kinabalu , penyebaran global palawan, semenanjung malaysia dan sunda besar.

Beberapa jenis lainnya tidak sempat diabadikan dengan kamera.

Sekali lagi buat saya mendaki gunung bukan soal melulu tentang puncak, sunset dan sunrise saja, apalagi berfoto narsis, tapi mengenal kehidupan liarnya, dengan kita mengenal secara dekat maka kita akan sadar bahwa gusti allah menciptakan bumi tidak hanya untuk manusia belaka tapi kita harus berbagi kehidupan pada mahluk ciptaaNya yang lain juga.

Keberadaan kehidupan liar di sekitar kita (gunung) menandakan bahwa habitat mereka tidak terusik oleh aktivitas manusia, namun bisa jadi karena aktivitas manusia maka prilaku satwa liarpun dapat berubah, seperti membuang sampah sisa makanan di jalur pendakian atau camp, dapat menimbulkan perubahan prilaku bagi satwa liar seperti jenis macaca fasicularis atau disebut monyet ekor panjang, tikus gunung, bahkan tupai dalam foto ini, saya temukan di tumpukan sampah di pos 3 gunung kerinci, artinya bahwa jika kita adalah pecinta alam atau pendaki gunung, maka kitapun tak menganggu aktivitas kehidupan liar di alam yang merupakan habitatnya.

Buat saya prilaku pendaki yang meninggalkan sampah di atas gunung adalah orang orang yang tak beriman dan tak bermoral, karena jelas bahwa kebersihan adalah bagian dari iman.
Salam Rimba

Friday, July 24, 2015

Turtle Nesting

Turtle neesting | penyu bertelur






























Penyu adalah hewan reptil yang telah sepenuhnya beradaptasi untuk hidup di laut. Tubuhnya dilindungi oleh tempurung yang keras. Bagian punggung dilindungi oleh tempurung yang di sebut Karapaks. Sedangkan bagian perut dilindungi oleh plastron.

Penyu mengalami siklus bertelur yang beragam, dari 2 - 8 tahun sekali.
Secara naluriah, penyu akan bertelur ditempat dimana dulu ia ditetaskan. Penyu akan mendarat di pantai dan menggali lubang di pasir untuk menimbun telur-telurnya.

Lokasi : pantai , TWA Air Hitam, pondok suguh, Mukomuko bengkuku

#traveling #traveler #explorebengkulu #piknikita #Jalanjalan #insta_animall #awesometraveling #pantai #penyu #turtle #seaturtle #habitat #airhitam #mukomuko #Bengkulu #konservasi #polhut #bksda

Sunday, May 24, 2015

Ketika kaki Patah dan Napas Putus di Gunung Patah


Hampir kaki kita patah-patah
Hampir napas kita putus-putus
Dan Hampir saja .....

Tak ada tempat yang tidak dapat kita jelajahi, selama doa dan keyakinan ada dalam kepala kita untuk berdiri tegak di segala penjuru pelosok nusantara yang tak terjamah.

Karena keberanian sejati hanya di miliki oleh para petualang

Petualangan bukan bagaimana menemukan siapa diri kita, tapi petualangan adalah soal keyakinan bahwa tuhan hanya berpihak pada orang orang yang berikhtiar dan perjalanan yang kita lakukan dapat bermanfaat bagi orang banyak.

Lembah sungai cawang kidau Rajemendare Mei 2015 | mount patah 2817

Friday, May 22, 2015

Gunung Patah Bukan untuk Yang Sedang Patah Hati

Luka ini tak sepedih irisan hati yang patah, karena gunung patah bukanlah untuk yang sedang patah hati.— feeling thankful.

Tuesday, April 14, 2015

Burung Kreo Padi | White-breasted Waterhen | Amaurornis phoenicurus





Kreo Padi | White-breasted Waterhen | Amaurornis phoenicurus

Species: White-breasted Waterhen   Amaurornis phoenicurus
Author:
Added to IBC: 14 Apr 2015 - 14:58

Taxonomy: Gallinula phoenicurus Pennant, 1769, Sri Lanka
Considerable individual variation in size and plumage renders determination of subspecies difficult, leading to various treatments. Here, possible races chinensis (much of mainland range from India E to E China) and javanica (Malay Peninsula, Greater Sundas) included within nominate owing to overlap in measurements, but may well be valid; proposed race maldiva (Maldive Is) also subsumed within nominate, leucocephalus (Car Nicobar) within insularis, and variabilis (Sulawesi) inleucomelana. Four subspecies recognized.
Subspecies and Distribution:
  • A. p. phoenicurus (Pennant, 1769) – Pakistan, India, Maldives and Sri Lanka to E China, Taiwan, Ryukyu Is, Bonin Is and Japan, and S through SE Asia and Philippines to Greater Sundas, Christmas I and Cocos (Keeling) Is; N populations winter to S, ranging W to Arabia. Currently expanding N into Japan and Korea, and E into Micronesia (Cocos, Yap).
  • A. p. insularis Sharpe, 1894 – Andaman Is and Nicobar Is (except C Nicobars).
  • A. p. midnicobarica Abdulali, 1978 – C Nicobar Is.
  • A. p. leucomelana (S. Müller, 1842) – Sulawesi, W Moluccas and Lesser Sundas.
  • Birds from Sangihe and Talaud Is (NE of Sulawesi) normally included in nominate race, but may be closer to other Sulawesi forms; further study needed


    Your rating: None
    4
    Average: 4 (2 votes)
    Licence: 
    All Rights Reserved
    Altitude (m): 
    10 meters

    This map was adjusted by the author.
    Locality: 
    Lentera Merah My web Lenteramerah https://pojoklenteramerah.blogspot.co.id/