Ya
memang tak ada pengaruhnya dengan negeri ini, namun tak sadar bahwa
sekitar 9 trilyun rupiah setiap tahunnya Negeri ini mengalami kerugian
akibat kejahatan ini. Sebenarnya aturan hukum dan undang-undang di
negeri ini telah mengatur tentang kejahatan ini, malahan sejak jaman
negeri ini dijajah oleh bangsa eropa. Namun lagi-lagi mandul
penegakkannya
Bahkan
beberapa penegak hukum mengagap ini masalah biasa yang tak perlu
ditindak secara represif, "kita lakukan pembinaan saja mas, kalau masih
ada ya kita tindak" Ujar pejabat di sebuah Instansi Dephut . Inikah
pemikiran petugas yang memang dalam tupoksinya untuk penegakkan hokum
diutamakan pembinaan baru represif. Lain dengan saudara tuanya yang
hanya satu kata Represif, Ya wajar saja terjadinya kepunahan satwa liar
di negeri ini karena beberapa petugas dengan sengaja di depan mata
mereka biarkan, dibelakang mata justru di bina.
Yah
maklum negeri ini adalah negeri yang latah, suatu contoh saat jaman
orde baru ketika korupsi merupakan hal biasa bagi para pejabat negeri
ini, maka saat penegak hokum bertindak , masyarakatpun menanggapinya
dengan pesimis hati, namun ketika aparat hokum berhasil menenggakan
dengan setengah hati masyarkatpun bersyorak dengan gembiranya dan
berapi-api menyerukan dukunggan untuk memberantas korupsi .
Terik
panas kota Surabaya membuat diriku malas menyusuri lorong-lorong pasar.
Saat itu riuh suara ratusan kicau burung dan bau apek kotoran binatang
di pasar burung bratang membuat perutku mual dan rasanya ingin
memuntahkan isi perut ini, suasana ini sama seperti di pasar-pasar
burung lainnya yang ada di negeri ini, kelam, penuh kotoran berserakan,
gantungan-gantungan burung yang ditutupin oleh kain ataupun kaos oblong
bergambar caleg dari berbagai partai.
Beberapa
pedagang menawarkan jualannya bahkan ada yang menawarkan secara
sembunyi-sembunyi dengan menunjukan foto dari ponselnya. Ini hal yang
biasa. Kok gak di taruh lutungnya di kios cak, maklum mas kata petugas
disimpan aja dirumah jualanya cukup dilihatkan dengan foto, kalau
berminat baru saya ajak ke gudang. Ujar seorang pedagang.
Kios
yang aku tuju ini merupakan kios yang setiap bulan sekali aku kunjungi
secara diam-diam untuk mengamati isi yang dipajang ataupun yang
dijualnya. Bahkan pengamatan ini telah 3 tahun lamanya.
Mataku
mengamati sekeliling, memerhatikan teriak para mahluk ciptaan tuhan
yang tak berdaya , yang mungkin saja sebentar lagi mereka akan mati
sia-sia tanpa bisa lagi bertasbih mengucapkan syukur pada sang kuasa.
Tanpak dengan jelas Lorius garulus, eos squamata, dan Psittacula
longicauda tersiksa dengan rantai kecil mengekang kakinya yang diikat
pada tiang, di sisi lain seekor C.galerita -pun mengalami nasip yang
sama.
Pembicaraan
singkat dengan pemilik kios yang mengaku bernama supri , menjadi akrab,
ketika akupun menanyakan pesananku beberapa bulan lalu seekor
Probosciger aterrimus, ia menanggapi dengan serius dengan mengatakan
“lagi kosong mas, nek sampean gelem di rumah ada jambul kuning banyak
mas, atau nuri merah kepala hitam,” ujar supri dengan nada suara
berlogak madura
Supri
adalah seorang pedagang yang memiliki nama asli subairi. Ia mengaku
telah 25 tahun berdagang jenis-jenis burung dari Indonesia timur. Ia
termasuk salah satu penyalur kelas kakap di jaringan bisnis illegal
satwa liar, dalam pengakuannya, baru saja ia baru saja mendapat pesanan 2
ekor Probosciger aterrimus untuk dikirim ke Batam pesanan orang
Malaysia , yang dititipkan kapal barang di Tanjung Perak. Ya lumayan mas
4 juta satunya.
Aku
rasa obrolan tawar menawar tentang dagangan yang dijual secara illegal
itu berjalan biasa. Aku melontarkan pertanyaan terbuka sambil merekam
dengan camera hidden yang sesekali aku arahkan lensa camera itu ke
wajahnya, dan kalau ada pernyataan yang kurang jelas, aku berusaha
menanyakan lagi sambil menghisap kretekku dan menghilang dahaga dari
botol air mineral yang aku bawa. Ia juga menjawab dengan blak-blak-an.
Orangnya terkesan tegas dan percaya terhadapku. Ini membuat akupun juga
semangat ingin mengeksplor dirinya . “Mas sampean itu pernah ambil
barang sama pak Haji ya”, tanyanya sambil mengisi air pada setiap
sangkar jualanya, “oh iya pak tegas ku”, padahal aku tidak tahu pak haji
mana yang ia sebutkan, namun ada salah satu bandar besar yang bernama
Haji S yang akupun belum pernah bertemu dengannya. “Sampean masih sering
bawa dagangan ke yogya “ tanyanya , “Iya pak ya sekali-kali aja pak ke
yogya , sekerang saya sering ke Bali sambil jualan mobil pak”. Itulah
kamuflaseku agar ia percaya, atau mungkin aku terkesan seperti cukong
jawa yang banyak uang , atau mungkin ada pedagang yang wajahnya mirip
denganku sesuai ceritanya. sambil bercerita tentang dagangan, aku
menunjukan foto-foto di ponselku tentang burung-burung yang aku cari dan
menunjukan seekor orang hutan yang aku punya agar terkesan ia percaya.
Bahwa aku adalah pemain ataupun Bandar.
Di
tengah obrolan tawar-menawar, subairin mengatakan tentang asal usul
burung yang ia jajakan ini’ biasanya ya kalau banyak di antar oleh para
abk kapal mas, atau saya ambil sendiri dari kali mas atau T.Perak,
terkadang kalau kapanya sandar di gresik ya saya ambil sendiri, dari
sini baru saya menyuplay pak haji di kupang, trus ya dulur-dulurku di
turi, bahkan dulurku dari pramuka sering kesini untuk barter” sambil
bercerita mengenai soal “bisnis illegal " juga ia sampaikan mengenai
para pejabat-pejabat yang kadang juga sering membelinya bahkan tentang
bisnisnya yang saat ini sering mengoper ke Malaysia via bata, Ia
bercerita dengan tanpa rasa takut, tak perlu tutup-tutup.
"Kalau
ada intel PPA (dulu namanya adalah PPA sekarang BKSDA atau Polhut) atau
intel Polri, biasanya mereka nyaranin untuk menutup dagangan saya
dengan kain, atau menaruhnya di rumah." Ya satu bulan sekali pasti ada
petugas kesini, biasanya ya saya kasih kopi sama uang saku ke mereka,
sing penting bereslah mas”
Hemm dalam hati berdehem kayaknya gaek tua ini curiga kalau aku intel !
Dengan
berbasa basi, aku menurunkan eclectus roratus jantan yang berwarna
hijau dari atas sambil membuka kerudung sangkarnya, pak nek nuri merah
papua, enek ra pak aku golek 10 ae gak akeh-akeh , arep tak gowo neng
mbali, koncoku cah satria pesen yo sekalian enek kerjoan neng bali
ngurus jualan mobil pak,… “wes mas pas nya sak juta siji ne,” walah
larang tenan pak wis ngene ae pitu ngatus pak, walah batiku yo ra enek
mas,..wes aku jokok satus ae mas sijine songo, piye” wes… iyo lah “deal
ujarku,…
Huh sambil menyela nafas, ku alihkan pembicaraan tentang pesanan burung asli papua agar ia tak curiga bahwa aku emang intel.
Perjalanan
berlanjut. Dari kios menuju sebuah perumahan, aku di bonceng naik motor
astra tahun 70an melalui liuk-liuk kepadatan jalan kota Surabaya, masuk
sebuah gang yang ku rekam di ingatanku nama-nama pada papan jalan atau
plang instasi yang dilewatin , masuklah daerah sebuah rumah type 42 pada
sebuah jalan yang bernama semampir barat. Pada garasi rumah kulihat
sebuah panther dipakir, rumah yang cukup besar dengan dua lantai yang
membuatku yakin ia bukan pedagang kecil, tak lama menanti depan pintu
gaek tua yang berumur 47 tahun itu mengajakku masuk menuju lantai dua.
Dalam
rumah itu. Mataku selalu awas melihat pajangan dan perabotan isi rumah,
terlihat pajangan sebuah senjata tajam khas suku Madura dan foto
keluarga, saat kakaiku melangkah meniti tangga sayup suara teriakkan
galerita dan lory bersaut-sautan. Bau kotaran mulai menyegat hidungku.
Ruang 3x4 denganpenchayaan dua buah jendela dan sebuah tempat tidur
mengisi ruang tersebut, namun yang sedikit membuat senyum kecutku dan
mengerutkan jidatku adalah puluhan burung galerita dan goffini
berdesakan dalam kandang yang sempit. Tampak juga 3 ekor lorius lory
yang masih muda, terlihat di pojokan sudut kamar, sambil meneliti tiap
sudut dan menghitung dalam hati, kuperhatikan satu persatu, tampaknya
ini semua barang baru karena mereka masih terlihat liar.
Bajingan,
bangsat, djancok” dalam hatiku mengupat bedabah gaek tua ini. Sambil
memfoto dengan ponselku aku memulai deal-dealan kembali dengannya. Kok
Cuma tiga pak nuri nya, iya mas nanti aku ambil dari pak haji atau
dulurku di turi, oh ngono ta,..yo wes, nek galerita ikupiro ta pak, o
sing iku 1,5 ae mas….yo wes aku pesen loro ae, setelah memberikan uang
DP, kamipun beranjak kembali dengan motor tua ke kiosnya di Bratang
Surabaya.
Setibanya
di kios, akupun langusng pamitan menuju pelatarn parkir, “y owes pak
saya pulang dulu ke Hotel,” naik opo tho mas iku katana merah sama
supir..o yo wes mas dino sebtu tak kabarin nanti nek enek barangen ..
Begitu
si mbah merah ku pacu keluar jalan bratang, ku memaki kepada rekan
kerjaku, Jancoek cak, akeh barange neng gudang…enek sekitar 30 ekor,
galerita, goffini sama lory..sambil memacu jimmny katana yang kami sebut
si mbah, aku membuka foto dari ponsel menunjukan gambar tersebut ke Cak
dar.
Halo
mas info A1 , isi gudang ada sekitar 30 ekor, teriakku pada bossku
melalui HP, segera laporkan ke pak Heru. Oke siap ndan. Setelah
berputar-putar sedikit nyasar kota Surabaya menuju jalan ahmad yani
akhirnya tiba juga kami di dalam ruang serse. Izin buk pak herunya ada,
wah tadi pulang mas katanya gak enak badan, emm pantas saya telp gak
diangkat, okelah bu saya pamit dulu.
Kamipun akhirnya segera meluncur kembali ke markas di malang dengan sedikit memacu si mbah.
Tak
lama setelah melewati porong yang sedikit macet akibat Lapindo, dering
HPku berbunyi. Tampak sebuah nama bertuliskan Kompol Heru memanggil,
“Selamat sore mas ‘ maaf saya gak enak badan, tadi telp ya” sahut pak
heru , “iya pak Heru mohon izin lapor, To sudah A1 kita bisa Reops untuk
penjebakan BB sekitar 30 ekor” oke segera besok ke ruang saya untuk
koordinasi’ “86 ndan segera menghadap”, jawabku.
Pagi-pagi
sudah memacu kuda hitamku dan memakirnya di terminal arjosari. Tak
terasa sudah 2 jam perjalanan Malang Surabaya akhirnya sampai juga di
jalan Ahmad yani.
Tepat
pukul 10 aku sudah menghadap kompol heru, Kanit Reskirm pidter bid
kehutanan, “begini pak TO kita punya gudang di semampir yang merupakan
rumahnya, hari ini dia akan mengirimkan kakatua raja ke Malaysia via
perak, dan sabtu kita akan transaksi kembali”, jelasku pada pak heru di
ruang ruang kanit yang berpangkat Kompol ini.” Kita jebak saja hari ini
mas, gak usah menunggu besok sabtu. Yang penting lokasi TKP jelas”.
Jawab pak heru.
“Jenisnya
apa saja mas ? Tanyanya kembali padaku. “Nuri kepala hitam, kakatua
jambul kuning dari jenis shulpurea dan galerita, bayan dan kakatua
tanimbar pak, jelasku tegas.
Pak
Heru-pun membuka bolak balik PP no 7 tahun 1999, sambil mencari
jenis-jenis yang aku terangi tadi. Dan memberikan stabilo pada buku
tersebut. Itu berati kena pasal 21 ya mas . Iya pak UU no 5 tahun 1990,
saya buat penyidikan untuk ayat a dan b berati. Siap betul ndan. “
barang siapa membawa, menyimpan memperniagakan bla..bla..bla jenis-jenis
dilindungi maka dapat dijerat dengan sanksi penjara maksimal 5 tahun
dan denda 100 juta. Ujar pak heru sambil membacakan isi pasal di buku
yang ia baca.
Supri
ini pedagangbiasa atau Bandar besar Tanya pak heru sambil menyuguhkan
air mineral gelas, kemudian saya menjelaskan rekaman dari kamera hidden .
oo orang kayak ginimah sikat aja. Itu bajingan gak usah ragu. Ujar pak
heru.
Tak
lama dering HPku berbunyi bertuliskan nama supri, halo mas barangnya
dan ada lengkap sampean bisa ambil sekarang gak..? yo iso cak jam 3 ya
aku neng kios.
Kemudian
akupun langsung menelpon si Boss, Mas operasi jadi hari ini saya minta
tim untuk handling satwa dan dokumentasi segera meluncur ke polda. Oke
saya kirim Dar dan anggota lainya.
Mas
kita menghadap Kasat dulu, ayo ikut saya ajak pak heru menyebrang ruang
di sebrang ruangnya. Izin menghadap nda, seru pak heru sambil mengambil
sikap hormat. Silahkan duduk, Saya dari LSM perlindungan satwa pak
sambil mengenalkan nama . dan pak Heru terus menjelaskan rencana
kegiatan penjebakan ini. Oke segera siapkan tim untuk operasi nanti.
SIap ndan kembali pak heru mengambil sikap hormat sebelum meninggalkan
ruang Kasat yang aku liat dari papan nama di depan pintunya berpangkat
AKBP dengan nama lengkap I Nyoman.
Setelah
tim berkumpul, pak heru langsung membagi 2 tim yang berisikan serse dan
para aktivis-aktivis perlindungan satwa. Tim satu bergerak ke kios dan
tim dua bergerak ke rumah yang menjadi gudang.
Setiba
di kios. “barange wis enek mas, hayo kita kerumah mindahin’ okelah
jawabku’ disekilingku sudah ada serse-serse memantau kami, melihat
burung-burung di tempat supri, mataku awas sambil melihat curiga kepada
mereka semua, sama seperti supri sambil mngerutkan dahinya. Hayo pak
naik mobil saya di ujung sana.
Mas
hari ayo jalan. Ajakku kepada supir kantorku. Mas tadi kayaknya polisi
ya. Yang mana pak? Tanyaku. Itu baju putih yang gemuk, wah saya kok
curiga juga pak dari tadi bolak balik sebelum saya datang.
Sambil
melihat ke arah belakang mas hari ada yang ngikutin tidak? Tanyaku
kepada supir, gak ada pak jawab hari supirku. Agak ngebut aja mas
terusku.
Akupun
berpura-pura menelpon” boss barangnya ada kalau gak cape saya sore
meluncur ke Bali sambil bawa mobil pesenan teman di denpasar’
cumaharganya agak mahal yang ini bos gimana?” teriakku ke pada orang di
seberang telp agar supri tak curiga terhadapku.
Setibanya
di TKP akupun meminta minum dan supri mengambil kandang untuk
memindahkan 10 ekor lorius lory , sambil bercanda saya meminta tambahan
cacatua galerita dengan harga murah.
Suasana
mulai mencekam saat dering HP supri berbunyi. Dengan bahasa Madura
terdengan samar-samar suara perempuan marah’ muka supripun langsung
pucat, akupun sedikit panik dengan mulai sms ke cak dar ataupun serse
tim dua yang seharusnya sudah ada di TKP.
Ini
mas manuk di kios mau di sita sama orang yang tadi. Emang bener mereka
polisi. Aku sedikit menampilkan muka gusar. Wah terus piye ikipak. Nanti
aku ditangkap. Aman mas gak apa-apa. Adzan magribpun menggema. Dering
HPku berbunyi dengan inisal cak dar” akupun berteriak “dik uangnya
tolong dikirim 10 juta ke ATM malam ini mas berangkat ke bali bawa
burung’ jam 6 dah dikirim ya. Sambil bertanya ke supri pak ATM dekat
dimana, sekitar sini HP kupun masih menyala berharap cak dar mendengar
percakapan kami, di semampir mas deket pom bensin. Akupun mengulangi
kembali disemampir ya pak dimananya pom bensi dekat gak jauh kok.
Saya
mau sholah dulu pak dah magrib ni, oya silahkan mas masuk kamar
mandinya di dalam. Akupun masuk WC sambil SMS serse dan cak dar untuk
merapat ke POM bensin sebelah markas brimob. Setelah mengambil wudhu,
tampak supri sudah menyiapkan sajadah. Di ruang tamu. Silahkan mas saya
mandi dulu.
ALLAh
huakbar….” Terdengar suara supri mandi jebar jebur…ini kesempatan untuk
telp dalam hati. Segera akupun duduk sila sambil menelpon cak dar “ mas
dia curiga tadi dapat telp dari istrinya katanya yang di kios di sita
polisi, kita kumpul di TKP dua di pom bensin. Saya akan giring kesana
pura-pura isi pom bensi dan ambil ATM. Sambil bisik-bisik menelpon. “oke
sambuk cak dari disebrang.
Akupun
melanjutkan sholat mangrib dengan sedikit panik, dalam doa aku meminta
“ya allah saya bekerja di jalanmu untuk menegakkan agamamu dan menjadi
tentaramu yang memembela kebenaran untuk mejaga alam yang kau cipatakan
ini maka berikan jalan yang terbaik untuk hambamu ini amin”
Supripun
tampak rapi dengan kemeja koko putih dan kopiah memulai sholatnya. Aku
hisap Kretekku sambil melihat burung-burung ini berteriak, sang kakatua
tampak tersiksa dalam karung beras . dalam hati aku memaki
diriku,..dengan perasaan iba dan dendan bercampur melihat supri sholat.
Perjalanan
dilanjut menuju ATM di semampir, di tengah jalan aku membuka dompet
memberikan uang dua ratus ribu ke supirku, mas nanti isi bensi dulu di
depan. Oh ya pak kalau ada kakatua raja saya pesan ya pak sambil
mengalihkan kediaman. Saya mau kalau 3 juta pak. Jangan mahal-mahal ya
pak.
BUSER Menangkap TSK
Laju
mobil akhirnya pelan saat masuk berbelok ke POM bensin aku lihat dua
mobil kijang telah berada di ujung dan cak dar telah berdiri di ujung.
Aku buka jendela mobil dan memberikan kode. Segara aku bilang ke supir,
mas aku WC dulu ya. Setelah saya berlari sekejap para serse itu langsung
mengepung mobil dan SUPRIpun tertangkap tangan membawa burung-burung
dari Indonesia Timur yang telah di lindungin Negara. Tak ada perlawanan
karena segala penjuru pintu telah dikepung sang penegakk hokum. Bahkan
supirku pun sempat di borgol oleh serse hingga menuju kantor Polda.Akupun
duduk di dalam mobil kijang merah milik serse sambil menunjukan jalan
rumah tersangka. Pak minta rokoknya dong rokok saya habis, ohh ini
mas…huh..hisapan demi hisapan terasa nikmat sambil mengepulkan asap dan
menghela nafas panjang. Dalam hati bekata akhirnya ketangkap juga
bajingan ini.Untuk
keamananku maka polisi pun menyembunyikan aku dalam mobil” mas sampean
duduk disini aja dulu jangan kemana-mana” siap pak, jawabku. Ohya pak
supri ingin boo’ongin tu rumahnya di gang ini bukan gang depan. Kita
turun sini aja pak , sayapun berlari menunjukan rumahnya.Saat
Danru yang berpangkat AKP meminta ijin penggledahan dengan RT setempat,
sempat terdengar pak RT berkata tidak ada burung di sini pak, emang
supri itu pedagang. Suara keak-keak..terdengar sayup di lantai dua,
sambil membisikan pelan ke Danru itu suara kakatua pak. Di atas lantai
dua.Ok kita masuk dengan tersangka. Mas sembunyi saja duluagar di tidak
lihat mas . Dari kejahuan supri telah menjadi orang pesakitan dengan
tangan terborgol di giring 4 orang polisi berpakaian sipil, wargapun
melihat dengan antusian dan tanpak supripun malu sambil menutupin
tangannya yang di borgol.Sempat
terjadi kembali pengelabuhan oleh supri yang bilang tidak ada burung di
rumahnya sambil membawa polisi ke arah kamar mandi. Suara keak, keak
pun kembali terdengar para polisi langsung melihat kea rah lantai dua.
Supri pun diam sambil mengalihkan perhatian polisi dengan bertanya, arek
sing mau pesen ndi..? wes pak iku intel polda, ndi manuk en ayo munggah
ujah bripda rudi sambil mebawa kamera menjawab pernyataan Supri.Tak
dapat dipungkiri lagi kejahatan yang dilakukan supri dengan ditemukan
10 ekor lorius lory, 10 ekor cacatua galerita dan 6 ekor cacatua goffini
yang semuanya merupakan satwa dilindungi Negara yang asalnya dari
Indonesia timur.Yah
Beginilah warna perjalanan dalam beberapa bulan ini. Bekerja menjadi
Aktivis kita harus bisa melakukan aneka profesi , kadang harus menjadi
makelar mobil, Pemabok, bahkan menjadi Mucikari, ya terkadang malah di
anggap intel, ataupun petugas serse, oleh beberapa orang dengan dandanan
yang sedikit army look malahdi bilang Buser yaa memang apa karena
tampang sedikit BUruk dan SERam ini kali ya ?