Showing posts with label Tan Malaka. Show all posts
Showing posts with label Tan Malaka. Show all posts

Saturday, June 3, 2017

JOKOWI DIANTARA ‘MANUSIA BATU’

Jokowi yang hadir di tengah-tengah arus kekuasaan tertinggi di Indonesia sempat menjadi tranding topik dunia, bahkan program poros maritim dan revolusi mentalnya menjadi fenomena besar di tengah-tengah masyarakat Indonesia yang hidup lama dalam pola pandang daratan. Apakah ini perkerjaan berat sang presiden, atau keberatan kita menerima sang presiden?


Kemunculan sosok pemimpin baru merupakan kemunculan akan suatu pembaharuan, bahkan pada level yang lebih ekstrim maka pengharapan akan perubahan dan revolusi tidak akan terelakkan lagi. Catatan sejarah Indonesia telah menerangkan bahwa perubahan pemimpin juga berarti perubahan orde, rezim dan totalitas arah kebijakan nasional. Munculnya ‘reformasi’ pada akhir kepemimpinan sang jendral ‘petrus’ mengantarkan pada pola kekuasaan per lima tahun hingga sampai pada lahirnya sosok seorang pemimpin ‘idaman’ bagi sebagian besar masyarakat. Bagaimana sepak terjang sang pemimpin pada era edan ini dengan suatu strategi ‘revolusi mental’ dan ‘poros maritim’-nya, berikut ulasannya.
Perubahan pola kepemimpinan yang secara cepat, memaksa setiap aktor dan manusia Indonesia untuk melakukan perombakan besar-besaran, baik dari cara berpikir berupa impian dan idaman ataupun tindakan berupa pola kerja dan interaksi antar masyarakat lainnya. Namun demikian dengan begitu luasnya wilayah Indonesia terutama laut, maka perombakan tersebut tidak dapat menyentuh secara luas setiap pundi-pundi kehidupan di Indonesia.
Jika dianalisa dengan teori perubahan sosial oleh Tan Malaka (1964)[1] yang menitik beratkan pada pola pandang berupa idaman dan impian masyarakat berpautan secara dua arah dengan empat faktor yang bergerak secara dialektika dari kelas berpolitik, keadaan ekonomi, perkembangan teknologi, dan keadaan geografis, maka setidaknya terdapat empat kelas masyarakat. Mulai dari masyarakat berpola pandang kolonial sebagai sisa-sisa masyarakat tua, masyarakat revolusi yang haus akan perubahan, masyarakat borjuis dengan pola pandang kapitalisme, serta masyarakat informasi yang dinamis. Setiap orang dengan pola pandang tersebut berinteraksi satu sama lain dan memiliki pengaruh dan otoritas tersendiri dalam tatanan masyarakat ‘kekinian’ Indonesia.

Masyarakat Internasional
Sementara itu di lingkungan setragis dunia telah mengalami berbagai perubahan mendasar yang juga menuntut setiap orang berlaku sama dalam suatu internasionalisasi. Analisa Fukuyama[2] menjelaskan bahwa perubahan masyarakat pasca perang dingin adalah terhentinya semua ideologi dan berkembangnya ideologi demokrasi-liberal ala Amerika, Sehingga setiap negara berupaya mencapai titik pemikiran politik ala demokrasi-liberal dengan berbagai penyesuaian budaya yang mengatur masyarakat untuk menjadi objek sekaligus subjek negara. Hal tersebut berlanjut kepada munculnya kekuatan individu dan kelompok-kelompok tertentu dalam masyarakat untuk menjalani keinginan politisnya hingga menciptakan ketidak-jelasan akan suatu perkembangan politik di negara tersebut.

Strategi Jokowi
Melihat perubahan dunia yang menuju arah ketidakjelasan dan ketidakpastian (Volatility, Uncertainty, Complexity, and Ambiguity World) sangatlah jelas bahwa dibutuhkan suatu pemimpin yang berpikir strategik untuk dapat membawa seluruh masyarakatnya ke arah pemikiran pasti.
Pola strategi Jokowi dengan program Trisakti dan Nawacita dalam visi “terwujudnya Indonesia yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian berlandaskan gotong royong,” memunculkan pertanyaan serius apa yang menjadi grand strategy berupa ‘victory’ Jokowi ke depan. Menyimak pemikiran diplomatis dunia saat ini dimana negara dengan kekuatan militer dapat memegang kendali akan kebijakan dan kepentingan nasionalnya kepada negara lain (sebagai contoh Amerika, Russia, dan Tiongkok), maka apakah akan sama targetan Jokowi untuk mencapai kedaulatan negara dengan kekuatan militer melalui tangga peningkatan ekonomi dan perbaikan politik?
Pemanfaatan domain maritim melalui program poros maritim memang merupakan prioritas pembangunan saat ini, namun strategi tersebut bukanlah hal baru di dunia. Negara-negara sekaliber Amerika, Inggris, Tiongkok, Jepang dll telah banyak melihat sektor ini sebagai kunci peningkatan ekonomi mereka. Melalui program-program seperti America ocean economy, blue economy, sea power, serta One belt one rote bisa menjadi acuan strategi poros maritim Jokowi.
Pemikir-pemikir bidang maritim seperti  Mahan[3] menjelaskan bahwa dibutuhkan karakter bangsa dan karakter pemerintah berorientasi pada domain maritim. Maka sangatlah wajar bila muncul istilah revolusi mental sebagai upaya membentuk karakter bangsa. Namun makna revolusi mental dalam poros maritim ini apakah benar dapat di tuangkan dalam strategy implementation-nya ditengah masyarakat?

Kritik Bangsa
Dalam hati terbuka, dan pikiran yang matang mari bersama-sama kita mengamati keadaan nyata saat ini, baik itu untuk tatanan pemerintah ataupun seluruh komponen masyarakat secara luas.
Pemerintah baik itu pemerintahan daerah merupakan perpanjangan tangan rakyat hendaknya sadar akan kehadirannya di negara tercintah ini, di tengah kisruh KKN yang tak kunjung usai jelas menunjukkan bahwa pemerintah masih memiliki mental kolonial (atasan harus dijilat bawahan harus diperas). Ditambah pemikiran borjuis dengan kekayaan sebagai kuncinya menjadikan pemerintahan sebagai lumbung uang. Dengan berkembangnya teknologi informasi maka sikut-sikutan untuk mencari kekuasaan akan semakin menjadi, jebak-menjebak atasan dan teman sejawat akan lazim digunakan. Jika memang Pemerintah bertindak untuk rakyat, ayo bergotong royong, berkerjasama dalam suatu integritas yang memang sangat dibutuhkan selama ini.
Lebih jauh program pemanfaatan domain maritim membutuhkan integrasi dan integritas dari semua lembaga pemerintahan. Domain maritim membutuhkan banyak informasi dari berbagai lembaga yang dapat disatukan dan dijadikan acuan bersama dalam menetapkan kebijakan. Bukan hendak memihak kepada lembaga Badan Geospasial Indonesia (BIG), namun lembaga ini haruslah menjadi juru kunci informasi dari berbagai lembaga lainnya. Analisa data dengan melibatkan berbagai lembaga harus dapat dikoordinasikan oleh lembaga intelijen Indonesia yang selanjutkan dieksekusi oleh berbagai lembaga terkait maritim dan perekonomian Indonesia. Namun walamualam pemerintahan saat ini belum memperlihatkan secara pasti kinerjanya bahkan lembaga legislatif sibuk memotong berbagai kebijakan penting, dan menetapkan secara sepihak kebijakan tanpa arah menunjukkan sikap ‘manusia batu’ dengan mental Kolonial, Borjuis kolot, Revolusiner bodong, dan Informatif bengal-nya sekaligus.
Seluruh masyarakat yang tergabung dalam persatuan baik LSM atau kelompok dengan kekuatan pengaruh lainnya hendaknya sadar apa yang telah dicapai oleh negara ini. Setidaknya HAM telah terjamin, dimana setiap orang berhak untuk melakukan apa saja selama tidak melanggar hukum baik itu untuk kepentingan pribadi, keluarga dan kelompoknya. Setiap orang bebas untuk bekerja sama dengan siapapun yang juga untuk memenuhi hasrat individualnya, bukan untuk negara, bukan untuk orang yang tidak dikenal di belahan Indonesia lainnya apa lagi untuk generasi yang akan datang. Selain itu pers dan media juga berhak melakukan apapun, informasi apapun dapat disebarkan asalkan menghasilkan uang, kenapa tidak dijalankan?
Namun ingatlah uang bukan segala-galanya, kekayaan tidak menjamin seutuhnya akan kebahagiaan. Tentang kebahagiaan saya rasa adalah dengan melihat generasi ke depan Indonesia hidup dalam kepastian dan kedamaian. Bila itu menjadi kuncinya maka jelas tugas kewajiban masyarakat adalah untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia. Apakah kita telah menyelesaikan kewajiban kita?
Tentulah kritik ini di generalisir, dengan tidak adanya ancaman masyarakat internasional yang mengacaukan pola pandang nasional dan mengganggu Integritas bangsa, namun perbaikan mental bangsa jelas harus menjadi prioritas terlebih dahulu. Selain itu konsistensi dan pola pandang Jokowi dan think tank-nya juga harus mencapai kestabilan pada arah yang tepat jika tidak mau era ini kembali digulingkan oleh generasi muda!


[1] Tan Malaka (1964) Materialisme-dialektika-logika MADILOG. Narasi. Jogjakarta
[2] Dikembangkan berdasarkan sudut pandang Francis Fukuyama dalam buku the End of History.
[3] Dalam Marsetio (2014). Sea power Indonesia. Universitas Pertahanan. Sentul

Sunday, September 6, 2015

Membaca Mengusir Sepi

Membaca bagi saya adalah jalan keluar mengusir sepi yang selalu berbayang dalam pikiran, beberapa sedang dalam proses kadang sebagian sering di ulang untuk di baca, karena butuh telaah yang dalam.


Beberapa tahun lalu di tahun 2007 saya menemukan sebuah buku di shelter 3 kerinci, saat jadi guide kawan mapala dari jawa, buku itu mengispirasi saya, mungkin banyak orang juga terinspirasi atas buku itu, karena di tahun itu menjadi bestseller.

Pasca menghabiskan buku itu dalam 2 malam di shelter 3 Gn kerinci dan Danau Gunung 7, sayapun akhirnya memutuskan menyegerakan Tamat kuliah, walaupun telat tapi harus tamat dan melajutkan kembali nantinya. Itulah inspirasi dalam kisah buku itu yang punya makna buat saya.

Beberapa minggu ini saya menemukan buku tentang fakta sejarah yang penuh filsafat membangun dalam proses sebelum kemerdekaan dan pasca kemerdekaan. Sempat di bredel di jaman orba, bahkan penulisnyapun dianggap pemberontak oleh penguasa rezim.

Masih tentang buku sejarah, yang membangun gerakan pendidikan dalam melawan kolonialisme, yang akhirnya membagun sebuah organisasi yang saat ini menjadi perhitungan pada setiap kampanye pilpres karena massanya yang militan. Kisah heroik dalam mengedukasi masyarajat di jalan tuhan adalah hal yang sangat membutuhkan ketotalan baik pemikiran maupun tenaga bahkan nyawa menjadi taruhannya. Dan itulah jihat yang sebenarnya untuk negara dan kemerdekaan NKRI.

Ada sebuah buku yang isinya catatan perjalanan pecinta alam tahun 70-90an yang mendaki gunung2 di nusantara. Penuh inspirasi dari beberapa catatan perjalanan itu, ada banyak perbedaan petualangan dahulun dan petualangan kini. Yang inti ajinya saya simpulkan bahwa mendaki gunung bukan soal sampai puncak, tapi soal mengenal alam beserta masyarakatnya, mengenal budaya dan kehidupan liar. Yang filosofi itu saya yakinin sejak bergabung pada organisasi Pecinta alam saat SMA.

Beberapa buku lainnya tentang revolusi mental yang di tulis sebelum jokowi menjadi presiden, bahkan jauh sekali buku itu beredar, bahwa kemerdekaan 100% adalah merdeka tanpa negoisasi, semuanya harus dilakukan dengan perlawanan semesta untuk kemerdekaan seutuhnya. Baik secara ekonomi maupun penguasaan SDA yang di miliki republik ini, sang penulis yang juga pelaku sejarah menganalogikan bahwa kemerdekaan 100% adalah perjuangan warga surabaya saat pertempuran 10 november 45. HIDUP atau MATI.

Beberapa buku cukup saya baca kovernya saja, atau sekedar melihat beberapa bab, karena cuma teori dan retorika ilmiah saja, inilah buku buku perkuliahan, yang terkadang teorinyapun sedikit usang tapi penerapan teori dalam kehidupan sehari2 jauh dari apa yang dipelajari, misalnya tentang global warming, efek rumah kaca, atau tentang bencana akibat salah kelola SDA, seperti apa yang terjadi baru2 ini di jambi dan riau tentang kabut asap, dan setiap tahunpun hal itu terus di terjadi seperti perayaan yang di rayakan setiap tahunya , tanpa adanya efek jera dari negara. Ya...hal ini kadang membuat ke apatisan saya, tentang perjuangan lingkungan, banyak kerja para sahabat sahabat aktivis saya yang kadang akhirnya sia sia saja.

Buku yang lagi saya baca ulang ulang terus saat ini, tentang PKI, isinya sangat mendidik, bahkan penuh harapan, dalam sebuah gerakan untuk kesejahteraan petani, beberapa kiat dalam PKI dapat saya yakini bisa menjadi jalan untuk kesuksesan, PKI (peternak Kambing Indonesia). Inspirasi membaca PKI karena sebuah buku buku yang dikarang dosen saya, dimana kesejahteraan petani hanya dapat dilakukan jika kita bangga dan bekerja keras membangun desa melalui pendidikan yang diutamakan dahulu, baru bicara pada sektor produksi di desa agar kita tak tergantung pada import.

Ada sebuah buku, tentang terapi berpikir pemberian seorang teman, cukup membantu dalam mengejar mimpi, jika lagi bego, lagi down, sering kali saya kembali membaca, kadang mempratekannya kembali metode terapinya,

Ya, setumpuk buku buat saya adalah surga di saat kesepian, jika saya seringkali ngomel karena meminjam koleksi buku tanpa bilang bahkan mengakui jadi milikpribadi itulah amarah saya paling besar, dan orang itu sudah saya pastikan masuk daftar hitam orang yang tidak bisa di percaya.

Namun jika ada seseorang yang menghibahkan buku, atau mentraktir membeli buku di toko buku, memberikan kado sebuah buku, buat saya dia adalah orang yang tahu pribadi saya seperti apa, dan suatu saat saya akan mengadokan buku yang menjadi ikatan sampai akhir hayat :)kalau itu wanita single hehehehe

Ada 11 buku yang sedang proses dan antri untuk di baca, sisanya sering kali diulang di baca.

1.Intelejen : Haryo kecik
2.Menyusuri garis bumi : clement steve
3.Dari bung karno hingga Jokowi pemikiran militer hario kecik catatan november 2011 september 2012
4.PKI (peternak Kambing Indonesia) Blogger.
5.Bangun Industri dari Desa selamatkan bangsa : Hermen malik Phd.
6. Ekologi ekosistem sumatra : anwar J
7.aku anak matahari : Golagong
8.Mahaguru : Damien dematra
9.Fajar kebangkitan pendidikan daerah tertinggal Hermen Malik Phd
10 Melepas perangkap import Pangan. Hermen malik Phd.
11. Tan Malaha merajut masyarakat dan pendidikan yang sosialis syaifudin

Bacalah itulah perintah gusti allah pada Nabi, jika kita enggan membaca maka kebodohan adalah jalan hidupmu.

Lentera Merah My web Lenteramerah https://pojoklenteramerah.blogspot.co.id/