Showing posts with label intropeksi. Show all posts
Showing posts with label intropeksi. Show all posts

Friday, October 28, 2016

Renungan : Ancaman Gusti Allah soal Bencana Alam antara sebuah cobaan kutukkan atau azab ?

Para Nabi sering mengingatkan kaumnya akan ancaman siksa pedih, bila mereka terus durhaka. Siksa itu bukan hanya di Akhirat, tetapi juga di dunia.

Berbagai peninggalan arkheologis tentang kaum-kaum di masa lalu yang telah dihancurkan, cukuplah menjadi bukti yang nyata. Sebuah tim dokumenter dari Malaysia pernah membuat kisah berseri, Jejak Rasul. Dalam dokumentasi itu banyak diperlihatkan bukti-bukti peninggalan masa lalu. Harun Yahya juga membuat dokumentasi khusus tentang sisa-sisa peninggalan kaum-kaum terdahulu. Bahkan kalau mau jujur, Pyramid dan Sphinx di Mesir adalah sisa-sisa kejayaan imperium Pharaoh (Fir’aun) yang telah dikubur oleh sejarah.

Ketika Fir’aun membangkang dari ajaran Musa As, bangsa Mesir tertimpa kekeringan, negerinya dipenuhi kutu, katak, belalang. Bahkan air-airnya pernah diubah menjadi darah. Dalam dimensi yang lebih kecil, bencana alam terjadi di berbagai tempat. Bisa jadi kualitas bencana itu tidak sedahsyat yang menimpa negeri Fir’aun di Mesir, negeri Saba’, kaum Sodom, bangsa Pompeii, Atlantis, bangsa Iram, dll. Tetapi hakikatnya sama, yaitu akibat perbuatan dosa.

“Qulil haqqa walau kaana murran” (katakan kebenaran, meskipun pahit konsekuensinya). Dimana saja ditemukan kemungkaran yang nyata, harus ada yang berani mengingkari kemungkaran itu, tanpa basa-basi. [Sifat inilah yang telah “hilang” dari karakter para pejuang Islam di Indonesia, sehingga dari tahun ke tahun tidak banyak kemajuan dakwah yang tercapai. Peluang lompatan dakwah yang seharusnya terjadi, selalu kandas gara-gara “menjaga perasaan” manusia].

Berikut ini adalah terjemah ayat-ayat dalam Al Qur’an Al Karim yang secara tegas menjelaskan
hubungan antara dosa manusia dengan siksa berupa bencana alam. Dan ayat-ayat semisal ini tidak sedikit dalam Al Qur’an, baik yang secara langsung atau tidak langsung menyebutkannya.
Selamat membaca dan semoga bermanfaat!
(1) Surat Al An’aam: 6.
“Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyak generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu) telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan Kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain.”
(2) Surat Ali Imran: 11.
“(keadaan mereka) adalah sebagai keadaan kaum Fir’aun dan orang-orang yang sebelumnya; mereka mendustakan ayat-ayat Kami; karena itu Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosa mereka. Dan Allah sangat keras siksa-Nya.”
(3) Surat Al A’raaf: 100.
“Dan apakah belum jelas bagi orang-orang yang mempusakai suatu negeri sesudah (lenyap) penduduknya, bahwa kalau Kami menghendaki tentu Kami azab mereka karena dosa-dosanya; dan Kami kunci mati hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar (pelajaran lagi)?”
(4) Surat Al Ankabuut: 40.
“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.”
(5) Surat Al Ahqaaf: 24-25.
“Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami.” (Bukan!) bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih, yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa.”
(6) Surat Fusshilat: 16.
“Maka Kami meniupkan angin yang amat gemuruh kepada mereka dalam beberapa hari yang sial, karena Kami hendak merasakan kepada mereka itu siksaan yang menghinakan dalam kehidupan dunia. Dan Sesungguhnya siksa akhirat lebih menghinakan sedang mereka tidak diberi pertolongan.”
(7) Surat Yusuf: 110.
“Sehingga apabila para Rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan mereka) dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada para Rasul itu pertolongan Kami, lalu diselamatkan orang-orang yang Kami kehendaki. Dan tidak dapat ditolak siksa Kami dari pada orang-orang yang berdosa.”
(8) Surat Al An’aam: 42.
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri.”
(9) Surat Al Mujaadilah: 5.
“Sesungguhnya orang-orang yang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, pasti mendapat kehinaan sebagaimana orang-orang yang sebelum mereka telah mendapat kehinaan. Sesungguhnya Kami telah menurunkan bukti-bukti nyata. Dan bagi orang-orang kafir ada siksa yang menghinakan.”
(10) Surat Maryam: 84.
“Maka janganlah kamu tergesa-gesa memintakan siksa terhadap mereka, karena sesungguhnya Kami hanya menghitung datangnya (hari siksaan) untuk mereka dengan perhitungan yang teliti.”

Andaikan setelah disampaikan semua ini, hati kita masih menolak keyakinan bahwa dosa-dosa manusia bisa mendatangkan siksa berupa bencana alam; bahwa keshalihan itu bisa mendatangkan kebaikan, dan kedurhakaan bisa mendatangkan sengsara; maka penolakan seperti itu bukan hal yang aneh. Sejak jaman dahulu, kaum-kaum durhaka juga bersikap sama. Ketika para Nabi dan Rasul memberi mereka peringatan akan ancaman siksa bila mereka tetap kufur, tetapi kaum-kaum itu malah meminta supaya ancaman itu segera didatangkan.

Perhatikan perkataan Nuh As kepada kaumnya, “Sesungguhnya aku ini adalah pemberi peringatan yang nyata. Janganlah kalian menyembah, selain hanya kepada Allah saja (jangan berbuat kemusyrikan). Sungguh aku takut kalian akan tertimpa adzab di hari yang sangat pedih.” (Huud: 25-26).
Tetapi kaum Nuh bukan percaya atas peringatan itu, malah mereka meminta supaya adzab itu segera didatangkan. Bahkan saat Nuh dan orang-orang beriman membangun bahtera, mereka terus-menerus mengejek. Hingga akhirnya mereka dibenamkan dalam banjir dahsyat, yang akibatnya mengangkat permukaan tanah di kawasan Mesopotamia, Jazirah Arab, dan sekitarnya.

Kedurhakaan terhadap risalah agama Allah terus terjadi, sampai saat ini. Hakikatnya sama, hanya bentuknya berbeda. Kalau dulu kaum durhaka menolak peringatan para Nabi dan Rasul dengan kesombongan dan ejekan. Maka kini mereka menolak semua itu dengan dalih “ilmu pengetahuan modern”. Di mata mereka, sains modern lebih tinggi dari Wahyu Allah Ta’ala. Mereka lebih percaya kepada para saintis daripada kepada Allah Ta’ala yang berkuasa memberikan setiap nafas bagi ara saintis itu. Manusia yang bodoh, pelupa, dan lemah diyakini; sedangkan Allah Ta’ala yang Maha Agung, Maha Sempurna, Maha Bijaksana, diingkari. Why and why?

Hendaklah mengambil pelajaran orang-orang yang masih mau mendapatkan pelajaran. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Saturday, October 15, 2016

POLITIK DAN JURNALIS, Sebuah Intropeksi


Kami tak boleh berurusan dengan kebohongan. Jurnalisme, sebuah bisnis yang ganjil di dunia.
Orang memercayai kami, apa yang disampaikan seorang reporter, dan kami mempertaruhkan kredibilitas untuk bisa tetap dipercaya.
Seorang kawan berkata, “Anda boleh menjadi seorang pemabuk, seorang alim, atau bahkan seorang tak beragama, sepanjang Anda tak berbohong dan memanipulasi fakta-fakta.” Sekali kami memainkan fakta-fakta, kami sudah selesai dalam bisnis ini.
Mungkin dari sini, para jurnalis selalu meletakkan diri mereka dalam posisi berhadapan dan skeptis dengan kaum politisi. Politik berurusan dengan kekuasaan, dan sesuatu yang etik tak selamanya hadir di sini. Kekuasaan sering tergoda untuk menempuh ketidakjujuran sebagai jalur cepat. Kekuasaan tak jarang pula menampik Kebenaran (dengan ‘k’ kapital).
Redaktur The Washington Post Benjamin C. Bradlee mengingatkan para wartawan, bahwa akrab dengan pejabat pemerintah sama dengan membuat ‘#perjanjiandenganiblis’. Namun, Bradlee sendiri teman dekat John F. Kennedy, sejak sang presiden menjadi senator muda yang ambisius.

Friday, November 6, 2015

Kyai Tanpanama | Berhati-hatilah Jika Kamu MendZalimi Berulang kali !

Membuka catatan pesan lama beberapa tahun lalu.
Bila kamu dizalimi berulang kali, apalagi dengan cara pola yang sama, kamu akan menemukan sendiri cara menyikapinya... Itu saja!
Saat banyak orang membicarakan "keburukan" sikapmu, tidak usah melawan dengan pembenaran, sikapilah dengan kemuliaan sikapmu... Itu saja!
Kehilangan hanya sebuah jeda dalam kehidupan,supaya sadar akan hebatnya skenario Tuhan... Itu saja!
Terkadang, engkau harus menyepi diantara keramaian yg memekakkan telinga. Mungkin naik gunung, atau menepi dalam senyap, Menyendiri dari sesak yg bikin muak. Melangit untuk menjemput pemberian gusti allah.. Itu saja!
Sepertinya haruslah hati-hati dgn rasa percaya dirimu, sekarang kau berkata gagal dan sakit, maka semesta akan mendukung seluruh kesakitanmu, memfasilitasi kegalauanmu, membiarkan engkau terseok dalam kegagalan.. Itu saja!
Tak mengapa engkau merasa lelah, terima saja lelahmu dengan damai, maka dengan segera engkau akan dikuatkan... Itu saja!
Tekanan itu, apapun bentuknya, bila dikreasikan dengan ramuan sabar dan syukur, hasilnya selalu dapat dipastikan penuh keindahan... Itu saja.
Pesan inj adalah sebuah percakapan dalam BBM, dari seorang senopati yang telah membumi menjadi kyai disebuah pesantren pada pojok ibukota.
๑۞๑kyaitanpanama๑۞๑

Wednesday, September 16, 2015

Saya Takut Kaya

Saya #TakutKaya ujar seorang Teman.

Sebagian besar orang bekerja untuk kaya, bukan sebagian besar lagi tapi bahkan ini impian manusia yang ada di bumi, aneka seminar dan pelatihan di gelar untuk menjadi pengusaha dengan mimpi KAYA.
Suatu saat saya sedang ngopi di sebuah warung kopi, yang kebetulan pemilik warung adalah teman, yang kemudian saya sebut mas Bro dan tiba2 seorang teman yang juga temannya pemilik warung ikut duduk bareng berdiskusi seperti dahulu saat masih sama2 menjadi aktivis, kawan kami yang satu ini adalah bisnisman dan selanjutnya saya sebut Bedul.
Dalam perdiskusian si bedul menyebut kawan lamanya mas bro ini adalah salah satu orang yang di anggap cukup syarat untuk bisa kaya, karena pekerja keras dan orang yang telaten, hidupnya gak neko neko alias lurus2 aja san inti pembicaraan ingin mengajak mas bro ini untuk berbisnis dengan logika yang masuk akal bisnis yang di tawarkan, perdiskusian semakin panas, namun mas bro sambil sesekali melayani tamu di warungnya, menjawab pernyataan kawannya bedul.
Dengan senyum simpulnya dan mengucap istigfar "saya takut kaya" mas, Saat itu saya kaget… ternyata ada orang yang TAKUT kaya…

Dia sangat faham… kalau menjalankan bisnis resikonya kaya. Lalu saya tanya: kenapa anda takut kaya?

Saya takut hubbuddunya saya takut cinta kepada dunia karena jika saya kaya maka saya takut mengejar dunia, cukup dengan motor itu saya usaha, cukup dengan warung kopi ini saya berusaha, jika saya sukses dengan bisnis itu pasti saya akan mengganti dengan mobil baru, jika saya bisa membuka cabang bisnis yang kamu tawarkan pasti saya akan membuka cabang, dan pasti saya tergiur membeli aset yang lain, bahkan bisa jadi saya tergiur mengganti istri saya dengan yang lebih muda, karena itu saya takut kaya kawan, setelah saya sadar , bahwa buat saya hidup di dunia ini tidak untuk mengejar dunia.
Terdiam saya seketika itu, dan teman saya yang bisnisman itu memutar otak untuk mencairkan suasana diskusi.
Sayapun iseng, kalau gw cuy, cukup syarat gak jadi orang kaya? Bedul menjawab cukup sekali, cuma 1 syarat yg kurang! apaan cuyy tanyaku, ?
Pendamping hidup kau..!!
Djiamput umpatku, kopi yang ku seruput tersembur mendengar syarat yang itu,
Tertawalah kami terbahak bahak bersama.
Dalam hati kampret juga nih kawan, tapi mas bro ini, hmm ada yaa orang kayak gini, ustad bukan, orang yang dianggap alim juga enggak, padahal dulu paling sering ngajak cari meong atau tuak tapi kayaknya hidupnya sudah lempeng, semenjak menikah dan punya anak,
Biasanya orang ketika di ajak diskusi tentang bisnis langsung antusias, dan melihat finansial studinya langsung melakukan analisis bila menarik, tapi ini enggak sama sekali. Usai tertawa kami diam seribu bahasa.
Dalam hati saya berdoa
Gusti allah sesungguhnya orang sholeh seperti inilah yang harusnya kaya…
karena kalau kekayaan dipegang sama orang-orang sholeh… insya Allah rahmatan lilalamin, Tapi sayangnya orang sholeh nya tidak mau kaya….Orang kayanya tidak mau sholeh.

Seorang gaek tua yang duduk di pojok menyeruput kopinya sambil memperhatikan kami, dan tersenyum mengangkat cangkir kopinya dan meminta izin bergabung dalam diskusi,
Dalam hati saya pasti gaek tua ini tertarik dengan bisnis yang ditawarkan oleh kawan yg bisnisman ini,
Sanak boleh datuk ikut berdiskusi, ohh silahkan pak ujar bro b yang pemilik warung.
Diskusipun makin hangat, sang datuk bercerita tentang syarat menjadi kaya yang di ridhoi oleh gusti allah.

Nak kalian kerja semua, tanyanya ? Iyaa pak jawab kami serempak,!! 
Untuk apa kalian kerja ? menambah dan menumpuk kekayaan? Semua orang ingin hidup mewah bukan?
Sebab, siapapun di dunia ini pastilah ingin hidup yang serba bekecukupan, bahkan kalau bisa berlebih-lebihan. Karena dengan memiliki uang yang banyak atau penghasilan yang besar kita bisa memenuhi segala kebutuhan hidup. Apalagi di tengah peradaban yang kian maju, benarkan nak seru sang datuk !!
orang-orang sepertinya menghalalkan gaya hidup hedonisme. Materi menjadi tolok ukur eksistensi seseorang. Karena itu tidak heran jika orang yang kaya, memiliki banyak uang, biasanya secara tidak langsung akan mendapat status sosial yang lebih tinggi di masyarakat.
Mereka dianggap lebih terhormat dan disegani. Berbeda dengan orang yang serba berkekurangan, orang miskin, tidak punya pekerjaan, atau bahkan tidak punya tempat tinggal.
Orang-orang seperti ini biasanya dianggap remeh, dan tidak jarang yang harga diri mereka direndahkan. Dengan kekayaan, apa saja bisa dilakukan oleh manusia. Dunia memang penuh gejala aneh-aneh. Dan inilah kemahakuasaan Tuhan.
Banyak orang ketika muda berlomba-lomba mencari harta benda, kekayaan 
dan uang dengan harapan kelak hidupnya akan lebih sejahtera dan bahagia. Hidupnya diombang-ambingkan oleh nafsu dan kerakusan akan kekayaan. Dengan uang, orang dapat menikmati segala kemewahan dan gemerlap hidup, serta berfoya-foya.

Orang berlomba untuk mengeruk kekayaan, menguras isi alam untuk 
kesenangan sendiri tanpa pernah mau tahu penderitaan orang lain. emang benar, agama juga mengajarkan agar kita terus meningkatkan taraf hidup. Akan tetapi bukan berarti kita kemudian seenaknya berbuat untuk memperoleh 
dan memanfaatkan kekayaan itu.

Seperti yang dikatakan Mahatma Gandhi, Tuhan tak pernah menciptakan lebih dari apa yang betul-betul diperlukan pada saat tertentu. Barang siapa yang meraih lebih dari keperluannya berarti melakukan pencurian. Dan itu sudah merupakan penderitaan bagi orang lain.
Upss datuk ini bacaaanya gandhi, wahhh dalem euuyy ,
Kemudian datuk terus mengoceh hubbudunya,… bukan penyakitnya orang kaya saja nak !! orang miskinpun banyak yang menderita penyakit hubbudunya…
Bedul, nyeletuk " jadi tuk , Kalau begitu masalahnya bukan di kaya atau miskinnya… tapi bagaimana sikap kita terhadap harta".

Datuk terus mengoceh.."Kalian harus kaya seperti kayanya Abu Bakar ashidiq….Seperti kayanya Umar bin khotob dan Seperti kayanya usman bin affan…Karena kekayaan merekalah… kita bisa berjaya…"

Nah orang2 kaya yang hidupnya berfoya2 hedon, adalah mereka yang tak cukup syarat menjadi orang kaya walau hartanya banyak, tapi miskin akan amal.
Kekayaan itu sangat gampang menghancurkan hidup manusia. Karena dengan harta (kekayaan) manusia bisa memperoleh segala yang diinginkan. Namun perlu diingat bahwa segala yang kita inginkan bukanlah yang kita butuhkan. Maka dari itu, kita harus benar-benar bisa memanfaatkan kekayaan yang kita punya agar selalu berlandaskan dharma atau kebenaran.

Manusialah yang harus mengelola dan mendayagunakan materi dan bukan sebaliknya, diperbudak materi. Kuncinya, bersyukurlah atas anugrah yang diterima dengan cara Satwika (halal).

Jadi syarat kaya adalah mengamalkan 2 warisan nabi, alquran dan al sunah, Syarat berikutnya ketika separuh dari hartamu bisa kau sedekahkan untuk yang berhak maka kekayaanmu terus mengalir.
Dengan kekayaanmu maka kamu bisa membangun negeri ini, kalian bisa membangun desa, kalian bisa membangun pesantren dan kita berjaye...Ingat syarat kaya itu saja..
Dalem euuyy datuk ini berkata. ....
Lentera Merah My web Lenteramerah https://pojoklenteramerah.blogspot.co.id/