Showing posts with label telaah mitologi jawa. Show all posts
Showing posts with label telaah mitologi jawa. Show all posts

Sunday, August 28, 2016

Tembang Durma Sebuah Ajaran Nilai Moral Dan Etika


Di jaman serba maju ini, mungkin kita telah lupa akan ajaran tutur yang mengajarkan budi, etika dan moral dari ibu atau ayah sebagai sang penutur ke pada anak-anaknya.

Saya termasuk generasi itu, mungkin nantinya, namun sungguh beruntung, kesibukan orang tua masih kerap memberikan pitutur, bahkan eyang-eyang kami dulu kerap mendongengkan cerita-cerita yang mengajarkan hal tersebut, ya jika tak di lakukan menjadi tindakan, maka kadang kita alpa melakoninnya.

Dalam budaya jawa, Tembang termasuk dalam genre sastra karena merupakan karya sastra utama dari puisi yang berisi curahan perasaan pribadi pengarang, susunan kata-kata sebuah tembang. Oleh karena itu, tembang bisa dikatakan sama dengan puisi, tetapi disajikan dengan nyanyian yang diiringi oleh alat musik dan termasuk dalam genre sastra imajinatif.

Setiap penciptanya pasti mempunyai tujuan tertentu yang ingin disampaikan kepada masyarakat sebagai pendengarnya melalui kata-kata yang terdapat dalam liriknya.

Salah satu sebuah karya tentang pengajaran nilai-nilai moral adalah  Mocopat "Tembang Durma"

Dalam pengertian Tembang Durma adalah sebuah karya sastra Jawa merupakan salah satu bagian dari tembang Macapat atau dalam bahasa sunda disebut pupuh. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata durma berarti merupakan bentuk komposisi tembang jenis macapat (terdapat di Jawa, Sunda, Bali), biasanya untuk melukiskan cerita-cerita keras (perkelahian, perang). (Sumber : KBBI) Durma juga berasal dari kata Jawa Klasik / bahasa Kawi yang berarti harimau.

Tembang Durma mengajarkan agar dalam hidup ini manusia dapat saling memberi dan melengkapi satu sama lain sehingga kehidupan bisa seimbang. Saling tolong menolong kepada siapa saja dengan hati yang ikhlas adalah nilai kehidupan yang harus selalu dijaga.

Tembang Durma dikidungkan bukan tanpa alasan, tetapi sebagai sarana untuk mengantarkan masyarakat pada proses penyucian diri atau katarsis. Tembang berperan sebagai hiburan, sarana edukasi, refleksi, serta implikasi keadaan sosial dalam rangka membangun masyarakat

Bener luput ala becik lawan begja cilaka
mapan saking badan priyangga
dudu saking wong liya

Batas antara benar dan salah telah luntur meskipun keduanya saling beroposisi. Dalam Serat Kalatida "Zaman Edan Ronggowarsito" telah dijelaskan tentang hilangnya batas antara kebaikan dan kejahatan. Hal tersebut disebabkan oleh proses yang digunakan seseoang untuk mendapatkan kejayaan. Dengan menghalalkan segala cara, seseorang mencari kemakmuran.
Untuk memperjelas kembali batas antara dua sisi yang saling berlainan itu seseorang harus berkaca kembali pada dirinya. Karena dengan mengintrospeksi diri, kesalahan dan perbuatan buruk yang telah dilakukan seseorang dapat diperbaiki.

Durma juga menyiratkan hubungan yang sangat erat antar manusia sebagai makhluk sosial. Dalam menjalankan kehidupannya, manusia senantiasa memiliki ketergantungan pada manusia lainnya.

Namun ada juga yang mengartikan Durma (Derma) sebagai pemberian. Tembang Durma mengandung filosofi tentang kehidupan yang suatu saat dapat mengalami duka, selisih dan juga kekurangan akan sesuatu.

Tembang macapat Durma menggambarkan kondisi ketika manusia telah menikmati segala kenikmatan dari Tuhan. Dalam banyak kasus, manusia akan mengingat Pencipta-nya saat ia dalam kondisi kesulitan, dan ia akan lupa ketika dalam kondisi kecukupan.

Memang sudah seharusnya ketika manusia dalam kondisi kecukupan ia akan bersyukur, namun pada kenyataannya justru seringkali ia bersifat sombong, angkuh, serakah, suka mengumbar hawa nafsu, mudah emosi dan berbuat semena-mena terhadap sesamanya. Sifat-sifat buruk inilah yang mungkin digambarkan dalam tembang macapat Durma. Durma bagi beberapa kalangan diartikan sebagai munduring tata krama, (mundurnya etika).

Makna Tembang Durma
Durma terdiri dari 12 pada/bait yang berisi pesan-pesan atau ajaran-ajaran sebagai berikut

  • Pentingnya perilaku hambanting sarira (melatih diri untuk merasakan penderitaan, kebalikan dari memanjakan diri), membatasi makan dan tidur.
  • Kebahahagiaan maupun kesengsaraan seseorang tergantung pada diri sendiri, sehingga perlu hati-hati dan heling (tidak lupa diri).
  • Hendaknya ditumbuhkan semangat yang mantap dalam menambah pengetahuan lahir dan batin.
  • Hendaknya tidak dimiliki sifat gunggung diri (tinggi hati), nacat (mencela), dan mahoni (mencela, menyalahkan, tidak mau menerima).


Dalam pupuh Kinanthi telah diungkapkan pesan moral untuk menahan (membatasi) makan dan tidur, yang diulang hingga tiga kali dalam dua pada/bait.  Dalam pupuh Durma, pesan itu dulangi lagi, yang cakepan (bunyi lirik tembangnya) sebagai berikut.

Dipun sami hambanting sariranira
cecegah dhahar guling
darapon sudaha
napsu kang ngambra-hambra
rerema hing tyasireki
dadi sabarang
karsanira lestari

Terjemahannya ke dalam Bahasa Indonesia adalah :

Hendaklah kalian membanting diri
mengurangi makan dan tidur
agar berkurang
nafsu yang tidak karuan
tenteramkan hati kalian
jadi segalanya
agar lestari

Nilai-nilai esensial pendidikan karakter yang terkandung dalam pupuh tersebut adalah sebagai berikut.

a.    Karakter yang baik :
hambanting sarira (melatih diri untuk merasakan penderitaan, kebalikan dari memanjakan diri); cegah dahar lawan guling (mengurangi makan dan tidur); heling (ingat, tidak lupa diri).

b.  Karakter yang buruk :gunggung diri (mengagungkan diri sendiri; merasa klas tinggi); nacat kapati-pati (mencela habis-habisan); mamahoni (mencela, menyalahkan, tidak mau menerima); nora prasaja (tidak apa adanya); hangrasani (membicarakan kejelekan orang lain); mada (mencela); ngrasa bener pribadi (merasa hanya dirinya yang benar).

Jika di simak makna-makna dalam bait tembang Durma maka ada kesejukan hati yang menggambatkan watak yang tegas, keras dan penuh dengan amarah yang bergejolak, namun penuh welas asih. buat saya menikmati tembang ini, sebagai ungkapan marah, atas duniawi, namun sepenuhnya di kembalikan pada gusti allah sebagai pemilik ruh dan jiwa.

Nilai Moral dalam Tembang Durma

a. Perbedaan antara Kebaikan dan Kejahatan

Batas antara baik-buruk, benar-salah, halal-haram perlu ditegaskan kembali. Hal tersebut tampak pada tindakan sewenang-wenang yang merajalela dan keserakahan manusia terhadap harta.

Bener luput ala becik
lawan begja cilaka

Untuk dapat membangun karakter suatu bangsa harus dibedakan antara hal-hal yang baik dengan hal-hal yang buruk. Dengan ditegaskannya kembali batas antara keduanya akan lebih mudah bagi masyarakat untuk mencapai karakter yang lebih baik.

b.Introspeksi dan Percaya Diri

mapan saking badan priyangga
dudu saking wong liya

Apabila seseorang melakukan kesalahan, seharusnya orang tersebut dapat menyadari kesalahan. Akan tetapi jika tidak, maka introspeksi perlu dilakukan orang tersebut. Kebaikan dan keburukan suatu perbuatan dapat dilihat pada diri sendiri. Dengan mengintrospeksi diri, seseorang akan mampu memperbaiki diri. Proses introspeksi diri tersebut dapat dikatakan sebagai proses katarsis.

Confidence atau rasa percaya diri tampak pada gatra kedua dan ketiga. Nasib seseorang ditentukan oleh diri orang tersebut, bukan dari orang lain. Upaya yang bersifat personal membuat pencapaian setiap orang menjadi berbeda-beda.

c.Waspada, Sadar, dan Berhati-hati

Di zaman yang serba sulit dan keras ini, masyarakat harus terus waspada dan mawas diri. Siapapun dapat berbuat kejahatan. Kewaspadaan berbeda dengan rasa curiga dan prasangka buruk. Masyarakat diminta untuk tetap waspada karena begitu marak tipu daya yang dilakukan. Bahkan, sesama saudara dapat saling menjatuhkan, saling menyerang, dan saling menipu satu sama lain demi tujuan-tujuan yang hendak dicapai.

pramila den ngati-ati
sakeh dirgama
singgahana den eling

Keterkaitan Tembang Durma dengan Pembentukan Karakter Bangsa

Nilai-nilai positif dalam tembang Durma memiliki peran dalam membangun karakter bangsa. Masyarakat Jawa sebagai pemiliknya telah mengamini dan membenarkan isi tembang Durma. Tentang kehidupan yang mengalami kemunduran, juga dibenarkan.

Kerusakan moral terjadi bukan hanya baru-baru ini. Isu   bahkan sudah pernah didengungkan oleh Ronggowarsito. Dalam serat-seratnya, Ronggowarsito meramalkan datangnya zaman yang sarwa kawalik atau serba terbalik. Bahkan disebutkan juga bahwa sing ora edan ora kaduman (yang tidak gila tidak dapat bagian).

Inilah zaman yang pernah diramalkan Ronggowarsito baratus tahun yang lalu. Zaman dimana orang benar disalahkan dan orang salah dibenarkan. Yang putih menjadi hitam yang hitam menjadi terang.
Akan tetapi, bukan berarti masyarakat tidak akan mampu lepas dari permasalahan tersebut. Masyarakat bisa saja lepas dengan tetap menjaga hati dan pikiran. Bukan dengan mengobarkan nafsu.

Berbagai cara dilakukan para orang tua dan guru demi menyelamatkan putra-putrinya dari kemunduran moral. Salah satunya melalui pengajaran nilai-nilai kehidupan. Nilai-nilai tersebut dikemas dalam bentuk yang tidak menggurui, sehingga lebih mudah diterima oleh anak.
Berdasarkan teori determinisme psikis dan determinisme lingkungan, telah jelas bahwa pengajaran yang dilakukan oleh orang tua sangat besar perannya terhadap karakter seseorang. Nilai-nilai yang ditanamkan oleh orang tua diterima, dipelajari dan kemudian diserap oleh anak, sehingga ketika anak mengalamai suatu permasalahan, nilai tersebut dapat berguna karena telah tertanam dan menjadi karakternya.

Akan tetapi, pengaruh lingkungan juga dominan dalam pembentukan karakter. Ketika lingkungan seseorang mendukung untuk tindakan-tindakan positif, maka orang tersebut akan memiliki karakter yang positif, begitu pula sebaliknya.



Tembang Durma mengajarkan seseoran (bangsa Jawa) untuk terus waspada dan mawas diri, karena lingkungan telah dipenuhi dengan tipu daya. Meskipun lingkungan telah rusak moralnya, seseorang harus tetap mampu menjaga diri, karena untung-rugi serta keselamatan seseorang tidak ditentukan oleh orang lain, melainkan oleh diri sendiri.

Wednesday, August 24, 2016

"Serat Kalatido" Bab.1-10 Pelajaran Memimpin dalam Negara KACAU!

Serat Kalatidha atau Kalatidha saja adalah sebuah karya sastra dalam bahasa Jawa karangan Raden Ngabehi Rangga Warsita berbentuk tembang macapat. Karya sastra ini ditulis kurang lebih pada tahun 1860 Masehi. Kalatidha adalah salah satu karya sastra Jawa yang ternama. Bahkan sampai sekarang banyak orang Jawa terutama kalangan tua yang masih hafal paling tidak satu bait syair ini.

Make Money Online : http://ow.ly/KNICZ
Serat Kalatidha R.Ng. Ronggowarsito

Serat Kalatidha atau Kalatidha adalah sebuah karya sastra dalam bahasa Jawa yang di karangan oleh Raden Ngabehi Rangga Warsita berbentuk tembang macapat. Karya sastra ini ditulis kurang lebih pada tahun 1860 Masehi. Kalatidha adalah salah satu karya sastra Jawa yang ternama. Bahkan sampai sekarang banyak orang Jawa terutama kalangan tua yang masih hafal paling tidak satu bait syair ini.


Awalnya saya tidak pernah percaya pada sebuah ramalan, namun ketika membaca satu persatu serat Kalatidha ini, apa yang dikatakan Joyoboyo ada benarnya, namun juga hingga saat ini sayapun masih tidak percaya tentang 7 satria piningit. karena dalam Serat Kalatidha Ranggawarsito tercantung tentang Satrio Piningit. yang tertuang tertuang dalam bait 22, begitupun dalam Serat Centhini jilid IV karya Susuhunan Pakubuwono V pada pupuh 257 dan 258.

Dalam tulisan ini saya tidak membahas  tentang satria-satria piningit yang kabarnya telah di titahkan memimpin negeri ini. yang akan saya bahas adalah tentang ke gaduhan negeri ini, yang berujung pada bencana, konflikhorizontal dan beragam aksi reaksi yang mengajak perpecahan nusantara.

Sekali lagi percaya atau tidak percaya, karya sastra yang di buat pada tahun 1860 ini ada banyak kesamaan kejadian di era milinium ini.

Pada dasarnya, Serat Kalatidha adalah serat yang berisi falsafah atau ajaran hidup R.Ngabehi Ranggawarsita. “Kala” berarti jaman dan “Tidha” adalah ragu. Berarti jaman penuh keraguan. Walau demikian banyak yang memberi pengertian “Kalatidha adalah jaman edan” mengambil makna dari bait ke tujuh serat ini. 
Konon Serat ini ditulis saat Ranggawarsita sedang dirundung kekecewaan sebab pangkatnya tidak dinaikkan seperti rencana semula. Tentunya ada sebab-sebab yang melatar belakangi mengapa Sunan Solo membatalkan rencananya. Belum tentu karena Ranggawarsita kurang baik reputasi dan prestasinya. Tetapi hal seperti itu bisa saja terjadi dan sampai jaman sekarang pun masih terjadi. 

Kelebihan Serat Kalatidha bagi saya adalah, Ranggawarsita tidak berhenti pada kekecewaan, tetapi mengungkapkan pula bagaimana beliau mengelola stressnya. Sekaligus hal ini merupakan “pepeling” bagi kita, generasi-generasi setelah surutnya beliau.
Ada yang membagi syair Serat Kalatidha dalam tiga bagian. Bagian pertama adalah “pada” (bait) ke 1 sd 6 yang merupakan kondisi tanpa prinsip, bagian kedua adalah “pada” (bait) ke tujuh  yang berisi tekad manusia untuk mawas diri, sedangkan bagian ke tiga adalah “pada” (bait) ke 8 sd 12 yang berisi ketaatan kita pada ajaran agama.  
Selanjutnya marilah  kita tengok bait perbait dari Serat Kalatidha yang kesohor ini. Semuanya dalam tembang “Sinom”.
Serat Kalatidha R.Ng. Ronggowarsito Serat Kalatidha atau Kalatidha saja adalah sebuah karya sastra dalam bahasa Jawa karangan Raden Ngabehi Rangga Warsita berbentuk tembang macapat. Karya sastra ini ditulis kurang lebih pada tahun 1860 Masehi. Kalatidha adalah salah satu karya sastra Jawa yang ternama. Bahkan sampai sekarang banyak orang Jawa terutama kalangan tua yang masih hafal paling tidak satu bait syair ini.

Make Money Online : http://ow.ly/KNICZ
Serat Kalatidha R.Ng. Ronggowarsito Serat Kalatidha atau Kalatidha saja adalah sebuah karya sastra dalam bahasa Jawa karangan Raden Ngabehi Rangga Warsita berbentuk tembang macapat. Karya sastra ini ditulis kurang lebih pada tahun 1860 Masehi. Kalatidha adalah salah satu karya sastra Jawa yang ternama. Bahkan sampai sekarang banyak orang Jawa terutama kalangan tua yang masih hafal paling tidak satu bait syair ini.

Make Money Online : http://ow.ly/KNICZ
Serat Kalatidha atau Kalatidha saja adalah sebuah karya sastra dalam bahasa Jawa karangan Raden Ngabehi Rangga Warsita berbentuk tembang macapat. Karya sastra ini ditulis kurang lebih pada tahun 1860 Masehi. Kalatidha adalah salah satu karya sastra Jawa yang ternama. Bahkan sampai sekarang banyak orang Jawa terutama kalangan tua yang masih hafal paling tidak satu bait syair ini.

Make Money Online : http://ow.ly/KNICZ
Serat Kalatidha atau Kalatidha saja adalah sebuah karya sastra dalam bahasa Jawa karangan Raden Ngabehi Rangga Warsita berbentuk tembang macapat. Karya sastra ini ditulis kurang lebih pada tahun 1860 Masehi. Kalatidha adalah salah satu karya sastra Jawa yang ternama. Bahkan sampai sekarang banyak orang Jawa terutama kalangan tua yang masih hafal paling tidak satu bait syair ini.

Make Money Online : http://ow.ly/KNICZ

BAIT PERTAMA: ANALISIS SITUASI
Mangkya darajating praja; Kawuryan wus sunyaruri; Rurah pangrehing ukara; Karana tanpa palupi; Atilar silastuti; Sujana sarjana kelu; Kalulun kala tidha; Tidhem tandhaning dumadi; Ardayengrat dene karoban rubeda
Makna dari bait pertama ini kurang lebih sebagai berikut: Keadaan negara yang demikian merosot karena tidak ada lagi yang memberi tauladan (karana tanpa palupi).Banyak yang meninggalkan norma-norma kehidupan (atilar silastuti). Para cerdik pandai terbawa arus jaman yang penuh keragu-raguan (sujana sarjana kelu; kalulun ing kalatidha). Suasana mencekam karena dunia sudah penuh masalah.
Pada bait pertama ini kelihatan bahwa ki Pujangga mencoba melakukan analisis situasi mengapa masalah ini terjadi. Yang di atas tidak memberikan tauladan, semua orang meninggalkan norma, para cerdik-cendekiawan terbawa arus keraguan.
BAIT KE DUA: PENGARUH JAMAN
Ratune ratu utama; Patihe patih linuwih; Pra nayaka tyas raharja; Panekare becik-becik; Parandene tan dadi; Paliyasing Kala Bendu; Mandar mangkin andadra; Rubeda angrebedi; Beda-beda ardaning wong saknegara
Makna dari bait ke dua kurang lebih sebagai berikut: (Sebenarnya) baik raja, patih, pimpinan lainnya dan para pemuka masyarakat, semuanya baik. Tetapi tidak menghasilkan kebaikan (Parandene tan dadi). Hal ini karena kekuatan jaman Kala bendu. Malah semakin menjadi-jadi. Masalah semakin banyak. Pendapat orang sat negara pun berbeda-beda (beda-beda ardaning wong sak nagara).
Pada bait ke dua ini tokoh kita menjadi geleng-geleng kepala, bingung. Mengapa mesti terjadi dan semakin menjadi-jadi padahal pimpinan dari atas ke bawah, termasuk tokoh informalnya semua baik. Mungkin karena pengaruh jaman yang dinamakan “Jaman kalabendhu”.

BAIT KE TIGA: KEKECEWAAN
Katetangi tangisira; Sira sang paramengkawi; Kawileting tyas duhkita; Katamen ing ren wirangi; Dening upaya sandi; Sumaruna angrawung; Mangimur manuhara; Met pamrih melik pakolih; Temah suhha ing karsa tanpa wiweka
Makna dari bait ke tiga kurang lebih sebagai berikut: Hati rasanya menangis penuh kesedihan karena dipermalukan (baris 1 sd 4). Karena perbuatan seseorang yang seolah memberi harapan (baris 5-7). Karena ada pamrih untuk mendapatkan sesuatu (met pamrih melik pakolih, baris 8). Karena terlalu gembira sang Pujangga kehilangan kewaspadaan (baris 9)
Pada bait ke tiga ini Ranggawarsita mulai kecewa dan menyesal. Kegembiraannya menghilangkan kewaspadaan. Ia lena dengan mulut manis seolah memberi harapan dan ia sendiri memang ingin mendapatkan sesuatu. Akhirnya menjadi sedih karena dipermalukan. Disini ada kesadaran dalam kekecewaan, bahwa “melik nggendong lali” yang tergambar dalam “met pamrih pakolih, temah suh-ha ing karsa tanpa weweka”.
BAIT KE EMPAT: PENGAKUAN KALAU LUPA
Dasar karoban pawarta; Bebaratun ujar lamis; Pinudya dadya pangarsa; Wekasan malah kawuri; Yan pinikir sayekti; Mundhak apa aneng ngayun; Andhedher kaluputan; Siniraman banyu lali; Lamun tuwuh dadi kekembanging beka
Makna dari bait ke empat kurang lebih sebagai berikut: Karena terlalu banyak kabar angin yang beredar (dasar karoban pawarta; bebaratun ujar lamis). Akan diposisikan sebagai pimpinan tetapi akhirnya malah di taruh di belakang dan dilupakan (baris 3 dan 4). (sebenarnya) kalau direnungkan, apa manfaatnya menjadi pimpinan (kalau) hanya menebar benih kesalahan, (lebih-lebih) bila disiram air “lupa” hasilnya hanyalah berbunga kesusahan (baris 5 sd 9)
Pada bait ke empat ini Ranggawarsita mengungkapka bahwa ia terlalu GR dengan kabar angin bahwa ia akan dijadikan “pangarsa”, pimpinan. Ketika kemudian harapannya ternyata hilang (Pinudya dadi pangarsa; wekasan malah kawuri) , ia mencoba menghibur diri dengan mengungkapkan: Untuk apa jadi pemimpin kalau hanya menanam kesalahan yang disiram dengan air lupa. Bunga yang dipetik hanyalah “masalah”.
BAIT KE LIMA: LEBIH BAIK MENULIS BUKU
Ujaring panitisastra; Awewarah asung peling; Ing jaman keneng musibat; Wong ambeg jatmika kontit; Mengkono yen niteni; Pedah apa amituhu; Pawarta lolawara; Mundhuk angreranta ati; Angurbaya angiket cariteng kuna
Makna dari bait ke lima kurang lebih sebagai berikut: Menurut para ahli sastra, sebenarnya sudah ada peringatan bahwa di jaman yang penuh musibah ini orang yang berbudi akan ditinggalkan (baris 1 sd 4). Demikian pula kalau kita perhatikan, apa manfaatnya percaya pada desas-desus. Lebih baik menulis kisah-kisah lama (baris 5 sd 9)
Pada bait ke lima ini R Ngabehi Ranggawarsita mencoba mencari makna lain dari kehidupan dengan lebih banyak menulis cerita: “angurbaya angiket  cariteng kuna”. Sebuah pelarian, mungkin. Tetapi sekarang pun terjadi seperti itu, menulis buku.
BAIT KE ENAM: TAKDIR
Keni kinarta darsana; Panglimbang ala lan becik; Sayekti akeh kewala; Lelakon kang dadi tamsil; Masalahing ngaurip; Wahaninira tinemu; Temahan anarima; Mupus pepesthening takdir; Puluh-puluh anglakoni kaelokan
Makna dari bait ke enam kurang lebih sebagai berikut: Kisah ini dapatnya dijadikan cermin dalam menimbang hal-hal yang baik dan yang buruk. Sebenarnya banyak kisah lama yang dapat dijadikan contoh, mengenai masalah-masalah dalam kehidupan (baris 1 sd 5). Setelah ketemu akhirnya bisa “nrima” dan berserah diri pada kehendak takdir atas hal-hal elok yang terjadi (baris 6 sd 9)
Pada bait ke enam ini, Karena tidak menemukan sebab-sebab yang pasti (diungkapkan sebagai “kaelokan”) akhirnya  R. Ngabehi Ranggawarsita mengambil kesimpulan bahwa hal tersebut memang sudah takdir Tuhan. Dengan demikian selesailah bagian pertama dari Serat kalatidha dimana beliau menyerahkan kepada kebijaksanaan Tuhan dengan “mupus pepestening takdir”.
BAIT KE TUJUH: JAMAN EDAN
Bait ke tuju inilah bagian ke dua dari Serat Kalatidha. Bait yang paling populer, cukup banyak yang hapal lengkap satu “pada” (bait) atau hanya hapal dua baris terakhir: “begja-begjane kang lali; luwih beja kang eling lawan waspada”. Orang sekarang yang tidak tahu bait ke satu sampai dengan enam bisa menganggap sebagai ramalan. Sekali lagi ini bukan ramalan, ini kritik jaman pada abad ke 19 yang ternyata masih dipakai pada abad ke 21. Bukan prediksi untuk abad ke 21.
Bait ke 7 selengkapnya adalah sebagai berikut:
Amenangi jaman edan; Ewuh aya ing pambudi; Milu edan nora tahan; Yen tan milu anglakoni; Boya kaduman melik; Kaliren wekasanipun; Ndilalah karsa Allah; Begja-begjane kang lali; Luwih begja kang eling lawan waspada
Makna dari bait ke tujuh adalah sebagai berikut: Mengalami hidup pada jaman edan; memang serba repot; Mau ikut ngedan hati tidak sampai; Kalau tidak mengikuti; Tidak kebagian apa-apa; akhirnya malah kelaparan; namun sudah menjadi kehendak Allah; Bagaimanapun beruntungnya orang yang “lupa”; Masih lebih beruntung orang yang “ingat” dan “waspada”
Pada bait ke tujuh ini, ki Pujangga mengungkap dilema kehidupan pada jaman edan. Dilema pada orang yang ragu-ragu tentunya. Mau ikut gila hati masih belum sampai, tetapi kalau tidak ikut ngedan bisa kelaparan. Dan lagi-lagi kehebatan Ranggawarsita, beliau tidak sekedar memasalahkan masalah, namun memberi peringatan sekaligus solusi: “Eling” lan “Waspada”. “Eling” berarti ingat pada Tuhan. Tuhan tidak pernah tidur, Tuhan adalah Maha Mengawasi. Disamping “Eling” juga “Waspada” kepada manusia lainnya karena diantara manusia ada yang mempunyai kelakuan suka menjerumuskan orang lain.
Dalam bahasa “Management Strategis” saya menganggap “Eling dan waspada” adalah “Critical Success Factor” yang harus dijabarkan dalam Visi, Misi, Strategi dan Langkah-langkah bila kita tidak ingin terbelenggu dan ragu dalam jaman edan. Demikianlah bait ke tujuh sekaligus bagian ke dua dari Serat Kalatidha: “Eling lan waspada”
BAIT KE DELAPAN: MERASA TUA
Semono iku bebasan; Padu-padune kepengin; Enggih mekoten man Doblang; Bener ingkang angarani; Nanging sajroning batin; Sejatine nyamut-nyamut; Wis tuwa arep apa
Muhung mahas ing asepi; Supayantuk pangaksamaning Hyang Suksma
Makna dari bait ke delapan adalah sebagai berikut: Hal itu sebenarnya karena ada keinginan. Begitu kan paman Doblang? (baris ke 1 sd 3). Kalau ada yang mengatakan begitu, memang benar. Tetapi dalam hati memang susah juga. Sekarang sudah tua, mau mencari apa lagi. Lebih baik menyepi agar mendapat ampunan Tuhan (baris 4 sd 9).
Pada bait ke delapan ini R. Ngabehi Ranggawarsita mulai merasa tua, mulai memikirkan kematian. Merasa banyak dosa ditambah menyadari kematian maka ki Pujangga berupaya mencari pengampunan dosanya. “Menyepi” adalah ungkapan Jawa untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Jangan dibayangkan sebagai semacam menjauhkan diri dari kehidupan dengan  bertapa di goa-goa. Inilah “wis tuwa arep apa, muhung mahas ing asepi, supayantuk parimarmaning Hyang Suksma”.
BAIT KE SEMBILAN: ALLAH MEMBERI PERTOLONGAN, MANUSIA IKHTIAR
Beda lan kang wus santosa; Kinarilah ing Hyang Widhi; Satiba malanganeya; Tan susah ngupaya kasil; Saking mangunah prapti; Pangeran paring pitulung; Marga samaning titah
Rupa sabarang pakolih; Parandene maksih taberi ikhtiyar
Makna dari bait ke sembilan adalah: Lain dengan yang sudah sentausa. Mendapatkan rahmat Allah. Nasibnya selalu baik. Tidak sulit upayanya. Selalu memperoleh hasil. Tuhan selalu memberi pertolongan. Memberi jalan semua ummatnya. Sehingga memperoleh semuanya. Tetapi manusia tetaplah berikhtiar.
Pada bait ke sembilan ini Ranggawarsita menekankan pentingnya ikhtiar. Beliau memberi contoh orang-orang yang berhasil karena dirahmati Allah.
BAIT KE SEPULUH: IKHTIAR DAN RAHMAT ALLAH
Sakadare linakonan; Mung tumindak mara ati; Angger tan dadi prakara; Karana riwayat muni; Ikhtiyar iku yekti; Pamilihing reh rahayu; Sinambi budidaya; Kanthi awas lawan eling
Kanti kaesthi antuka parmaning Suksma
Makna dari bait ke sepuluh adalah: Kita laksanakan, apapun, sekedarnya. Perbuatan yang menyenangkan dan tidak menimbulkan masalah. Karena sudah dikatakan, manusia wajib ikhtiar. Melalui jalan yang benar. Sembari berikhtiar tersebut, manusia harus terap awas dan ingat supaya mendapatkan rahmat Tuhan.
Pada bait ke sepuluh: “ikhtiar iku yekti, pamilihing reh rahayu, sinambi budi daya, kanthi awas lawan eling, kang kaesthi antuka marmaning Suksma. Kembali kata ikhtiar dan “Eling” diulang dalam upaya kita mendapatkan rahmat Allah. Ikhtiar yang kita lakukan adalah ikhtiar di jalan yang benar. Bait ke sepuluh adalah penekanan bait ke sembilan.
 Bait-bait selanjutnya masih dalam proses membaca pemaknaan .
 PENUTUP

 “Serat Kalatidha” yang bertujuan memberi peringatan kepada kita agar senantiasa “Eling” kepada Allah dan “Waspada” kepada manusia dan kehidupan manusia. Beliau tidak pernah menganjurkan orang jadi pemberontak, melainkan manusia hendaknya percaya kepada “Takdir”. Takdir yang dilandasi dengan “Ikhtiar” di jalan yang benar. Setelah ikhtiar maka semuanya dikembalikan ke Takdir.

R Ngabehi Ranggawarsita menyadari kehendak Allah yang kadang sulit diterima akal manusia. Namun beliau yakit bahwa Allah akan menolong orang-orang yang “eling lawan waspada”. Orang yang “eling dan waspada” tidak akan terombang-ambing dalam riak gelombang “Kalatidha”. Tidak akan frustasi, neurosis atau bahkan menjadi schizophereni.
Sebagai karya seni yang menulis tentang manusia dan kehidupannya ternyata karya ini tidak lapuk oleh jaman. Baris terakhir bait terakhir Serat Kalatidha yang terjemahan bebasnya adalah “Hamba serahkan jiwa dan raga (kepada Allah) ditulis dalam sebuah “sandhiasma” yang menunjukkan nama penulisnya: BoRONG angGA saWARga meSI marTAya
Disadur dari berbagai sumber 

Saturday, November 20, 2010

Gusti allah dan telaah mitologi jawa


Penerawangan si mbah dan hitungan statistik tanggalan jawa: erupsi tgl 26-10-10 jatuh pada hari PAHING, erupsi tgl 5-11-10 jatuh pada PAHING juga, erupsi lainnya seperti tgl 2-11-10 jatuh pada WAGE, ada apa ini? mbah lagi buka primbon mengartikan dengan akal sehat, agama dan mitologi jawa...nek percaya gusti allah, i...lmune weruh sakdurunge winarah artine, inilah kebesaran gusti allah.


diatas adalah  status saya beberapa hari, setelah primbon di buka dan begitupun al quran, ternyata ada banyak hal tentang kejadian di muka bumi yang memang sudah di gariskan oleh gusti allah, walaupun ada ramalan, namun ramalan itu belum pasti, kepastian yang ada hanyalah dari gusti allah yang diturunkan ke dalam  kitab suci.


SABDO PALON & NOYO GENGONG kalo di dunia pewayangan adalah SEMAR dan Togog ... yang merupakan pamomong raja raja seluruh jawa ... jawa bukan berarti hanya pulau jawa ... jawa disini adalah kekuasaan majapahit ... sampai ke negeri Siam atau yang kita kenal sebagai NUSANTARA. pada masa itu majapahit mencapai puncak kejayaannya.


Saat itu sabdopalon memberikan kutukan kepada Tanah jawa karena beliau sudah melihat bahwa suatu saat nanti orang jawa akan melupakan budayanya, akan melupakan leluhurnya, akan melupakan sejarahnya.

Budaya spiritual jawa sudah sampai pada sarinya .... bagaimana kita bergaul dengan alam tidak hanya dari sisi materi tapi juga dari sisi imateri. bagaimana penghargaan manusia terhadap alam begitu baiknya, sehingga harmonisasi kehidupan berjalan dengan indah.


Melupakan leluhur dan sejarah ... mungkin hanya sebagian kecil dari anak bangsa ini yg tau akan sejarah berdirinya bangsa ini .. karena sejarah yg diajarkan hanya sejarah sejak kemerdekaan. bungkarno pernah berpidato ""Abraham Lincoln, berkata: "one cannot escape history, orang tak dapat meninggalkan sejarah", tetapi saya tambah : "Never leave history". inilah sejarah perjuangan, ...inilah sejarah historymu. Peganglah teguh sejarahmu itu, Djikalau engkau meninggalkan sejarah, engkau akan berdiri diatas vacuum, engkau akan berdiri diatas kekosongan dan lantas engkau menjadi bingung"

Kita telah lupa akan apa yg telah diwariskan oleh nenek moyang kita dulu ... kita bangga menjadi bangsa lain yang sudah keluar dari jati diri sejati bangsa. Nurani kita telah tertutup oleh doktrin .... sehingga kita tidak dapat lagi melihat sesuatu secara PENER bukan BENAR.


Saya mencoba mengkaji kata-kata diatas  terkait mitologi jawa mengenai bencana yang ada di bumi nusantara.

Dalam surat QS ar-Ruum: 41

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)

Kembali kejalan yang benar, bila kita kaitkan dengan kata-kata sabdo palon noyo genggong " Bahwa suatu saat nanti orang jawa akan melupakan budayanya, akan melupakan leluhurnya, akan melupakan sejarahnya. Budaya spiritual jawa sudah sampai pada sarinya .... bagaimana kita bergaul dengan alam tidak hanya dari sisi materi tapi juga dari sisi imateri. bagaimana penghargaan manusia terhadap alam begitu baiknya, sehingga harmonisasi kehidupan berjalan dengan indah."

surat diatas sangat jelas bahwa kerusakan itu karena ulah manusia yang lupa dalam memanfaatkan bumi hanya untuk kepentingan pribadi yang menjadikan keserakahan. karena itulah gusti allah memberikan akibat bagi para perusaknya.

Dijelaskan dalam surat Asy-Syuara 26:5 Dan sekali-kali tidak datang kepada mereka suatu peringatan baru dari Tuhan Yang Maha Pemurah, melainkan mereka selalu berpaling daripadanya.

Bencana yang ada merupakan pengingat dan peringatan gusti allah agar kita kembali ke jalan yang benar.

Dalam ramalan SABDO PALON NOYO GENGGON yang merupakan penasihat prabu Brawijaya V mengatakan "Bila kelak Gunung Merapi meletus dan memuntahkan laharnya. Lahar tersebut mengalir ke Barat Daya. Baunya tidak sedap. Itulah pertanda kalau saya datang. Sudah mulai menyebarkan agama Buda (budhi pekerti). Kelak Merapi akan bergelegar. Itu sudah menjadi takdir Hyang Widhi bahwa segalanya harus bergantian. Tidak dapat bila diubah lagi.

Kelak waktunya paling sengsara di tanah Jawa ini pada tahun: Lawon Sapta Ngesthi Aji. Umpama seorang menyeberang sungai sudah datang di tengah-tengah. Tiba-tiba sungainya banjir besar, dalamnya menghanyutkan manusia sehingga banyak yang meninggal dunia.


Bahaya yang mendatangi tersebar seluruh tanah Jawa. Itu sudah kehendak Tuhan tidak mungkin disingkiri lagi. Sebab dunia ini ada ditanganNya. Hal tersebut sebagai bukti bahwa sebenarnya dunia ini ada yang membuatnya.

Bermacam-macam bahaya yang membuat tanah Jawa rusak. Orang yang bekerja hasilnya tidak mencukupi. Para priyayi banyak yang susah hatinya. Saudagar selalu menderita rugi. Orang bekerja hasilnya tidak seberapa. Orang tanipun demikian juga. Penghasilannya banyak yang hilang di hutan.

Bumi sudah berkurang hasilnya. Banyak hama yang menyerang. Kayupun banyak yang hilang dicuri. Timbullah kerusakan hebat sebab orang berebutan. Benar-benar rusak moral manusia. Bila hujan gerimis banyak maling tapi siang hari banyak begal.

Manusia bingung dengan sendirinya sebab rebutan mencari makan. Mereka tidak mengingat aturan negara sebab tidak tahan menahan keroncongannya perut. Hal tersebut berjalan disusul datangnya musibah pagebluk yang luar biasa. Penyakit tersebar merata di tanah Jawa. Bagaikan pagi sakit sorenya telah meninggal dunia.

Bahaya penyakit luar biasa. Di sana-sini banyak orang mati. Hujan tidak tepat waktunya. Angin besar menerjang sehingga pohon-pohon roboh semuanya. Sungai meluap banjir sehingga bila dilihat persis lautan pasang.

Seperti lautan meluap airnya naik ke daratan. Merusakkan kanan kiri. Kayu-kayu banyak yang hanyut. Yang hidup di pinggir sungai terbawa sampai ke laut. Batu-batu besarpun terhanyut dengan gemuruh suaranya.

Gunung-gunung besar bergelegar menakutkan. Lahar meluap ke kanan serta ke kiri sehingga menghancurkan desa dan hutan. Manusia banyak yang meninggal sedangkan kerbau dan sapi habis sama sekali. Hancur lebur tidak ada yang tertinggal sedikitpun.

Gempa bumi tujuh kali sehari, sehingga membuat susahnya manusia. Tanahpun menganga. Muncullah brekasakan yang menyeret manusia ke dalam tanah. Manusia-manusia mengaduh di sana-sini, banyak yang sakit. Penyakitpun rupa-rupa. Banyak yang tidak dapat sembuh. Kebanyakan mereka meninggal dunia.

ini hanya sekedar kupasan dan tambahan wawasan, dan ini ramalan ini asli jawa dan ada lontar aslinya yaitu kitab negarakertagama yang tersmpan dalam arsip nasional. dan jelas semuanya bahwa bencana, yang terjadi merupakan kehendah gusti allah agar kita khalifah di muka bumi untuk terus kembali ke jalanNya,  Menghargai alam dengan baiknya, sehingga harmonisasi kehidupan berjalan dengan indah. Bila kita merubah diri maka di balik bencana ini ada kebahagaian yang akan diberikan oleh Gusti allah

llmune weruh sakdurunge winarah ( mengetahui sebelum terjadi) maksudnya adalah, bacalah kitabmu maka semua yang terjadi akan kamu ketahui ! karena semua kejadian di muka bumi ini sudah digariskan dan di inggatkan oleh gusti allah.

Catatan lainnya :
Membaca Kejadian Alam (Perspektif Spiritual Agama) & Ramalan “SABDO PALON NOYO GENGGONG” tentang NUSANTARA

Lentera Merah My web Lenteramerah https://pojoklenteramerah.blogspot.co.id/